Blitar (beritajatim.com) – Gema takbir yang bersahut-sahutan di luar tembok tebal Lapas Kelas IIB Blitar pagi itu terasa berbeda. Di dalam ruang kunjungan yang disulap menjadi tempat pertemuan hangat, aroma opor dan kue lebaran bercampur dengan aroma kerinduan yang membuncah.
Tidak ada mata yang benar-benar kering. Di setiap sudut ruangan, pemandangan serupa tersaji yakni para pria berbaju seragam warga binaan bersimpuh di kaki orang tua atau memeluk erat anak istri mereka.
Tradisi sungkem dan saling memaafkan di momen Idul Fitri kali ini pecah menjadi suasana haru yang menyesakkan dada. Melepas semua rindu akan lebaran kampung halaman, berkumpul dengan keluarganya tercinta.
Di antara ratusan pengunjung, tampak seorang pria paruh baya bernama Rudi. Wajahnya yang tegar tak kuasa menyembunyikan gurat kesedihan saat menatap putranya, K, yang kini mendekam di balik jeruji akibat kasus penganiayaan.
Rudi tak datang dengan tangan kosong. Ia menempuh perjalanan cukup jauh dari Malang menuju Blitar tepat di hari pertama lebaran. Di tangannya, terselip sebuah wadah berisi roti khas lebaran penganan sederhana yang menjadi simbol bahwa meski sang putra sedang menjalani hukuman, ia tetap tidak kehilangan tempat di meja makan keluarga.
“Ini tadi saya bawakan kue lebaran, buat dimakan di sini,” ucap Rudi lirih,
K, sang putra, hanya bisa tertunduk lesu. Baginya, lebaran tahun ini adalah tamparan keras sekaligus guru yang paling berharga. Ini adalah kali pertama ia merayakan Idul Fitri jauh dari hangatnya suasana rumah.
“Rasanya campur aduk, antara bahagia bisa bertemu bapak, tapi sedih karena harus di sini. Ini pelajaran besar buat saya agar lebih bijak. Semoga tahun depan saya sudah bisa lebaran di rumah,” tutur K dengan nada penuh penyesalan.
Pihak Lapas Kelas IIB Blitar memang secara khusus membuka layanan kunjungan tatap muka selama empat hari ke depan guna memberikan kesempatan bagi para warga binaan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Kasi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik Lapas Blitar, Bagus Permana, menjelaskan bahwa pihaknya harus melakukan pengaturan ekstra mengingat tingginya antusiasme keluarga. Dari total 547 warga binaan, jumlah pengunjung per harinya melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 300 orang.
“Kami memberikan batasan waktu 15 menit agar semua keluarga mendapatkan giliran yang sama. Ini tantangan tersendiri karena volume pengunjung sangat besar,” ujar Bagus Permana
Meski mengedepankan sisi humanis, Bagus menegaskan bahwa prosedur keamanan tetap menjadi garda utama. Setiap makanan yang dibawa keluarga, termasuk roti lebaran milik Rudi, harus melewati pemeriksaan ketat petugas.
“Pemeriksaan kami lakukan secara profesional dan sesuai prosedur. Hal ini penting untuk mencegah masuknya barang-barang terlarang seperti narkoba atau benda berbahaya lainnya ke dalam Lapas,” pungkasnya.
Idul Fitri di Lapas Blitar bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah momen refleksi bagi mereka yang sedang singgah untuk kembali ke fitrah, sembari menabung rindu untuk ditebus di lebaran tahun depan. (Owi/ted)






