Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) mengadakan seminar internasional bertema ‘Islam, Nahdlatul Ulama, dan Deradikalisasi Agama’. Seminar tersebut merupakan serangkaian agenda dari Dies Natalis ke 42 sekaligus peringatan satu abad NU.
Acara yang berlangsung secara daring dan luring di Hall Abdurrahman Wahid, Pascasarjana, Lantai 7 Unisma itu menghadirkan setidaknya 10 pembicara. Pertama Prof Ron Lukens-Bull, PhD dari University of North Florida, USA. Kemudian, Prof. Greg Barton, Ph.D dari Deakin University, Australia, dan Nadirsyah Hosen dari Monash University, Australia.
Hadir pula pembicara nasional dari Indonesia meliputi, Prof. M. Ali Ramdhani, Ph.D dari LP. Ma’arif PBNU; Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid dari Gusdurian Network; Prof. M. Mas’ud Said, Ph. D dan Fauzan Alfas, SH., M.H. pembicara internal Universitas Islam Malang.
BACA JUGA:
HUT ke-42, Unisma Berharap Barokah Pecinta Al-Qur’an
Wakil Rektor bidang akademik dan kerja sama, Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd, Ph.D menjelaskan, kegiatan seminar dalam rangka mendapatkan informasi terkait pemahaman yang benar tentang Islam, NU dan kegiatan deradikalisasi.
“Ada tiga narasumber internasional. Narasumber yang dari University of North Florida kebetulan beliau memang banyak meneliti Islam di Indonesia terutama dalam lingkungan pondok pesantren, dan peran yang dilakukan dengan ulama pondok pesantren. Kemudian ada program yang sekarang sedang presentasi dari Prof. Greg Barton juga banyak tahu tentang Islam bahkan kalau tidak salah beliau itu menulis biografi Gus Dur, ” kata pria yang akrab disapa Prof Jun tersebut, Senin (20/3/2023).
Kemudian ada juga Nadirsyah Hosen putra dari Ulama NU dari Sumatera yang sekarang menjadi dosen di Monash University Australia dan saat ini gencar di PBNU. Dari para pembicara tersebut diharapkan berbicara tentang NU terutama peran-peran dalam rangka menangkal radikalisme.

“Tema kita dari seminar ini kita harapkan pada pemahaman yang benar tentang Islam tentang NU yang baik. Terutama pada pandangan yang seringkali masih belum benar dalam memandang Islam. Orang barat seringkali melihat Islam itu seperti yang ada di Timur Tengah dengan penuh kekerasan,” ungkapnya.
Hal itu, kata Prof Jun, yang menjadi konsen seminar tersebut bahwa ada Islam ala Indonesia terutama Islam versi Nahdlatul Ulama Nusantara. Islam dengan nilai toleransi, nilai yang tidak memihak lebih ada di tengah (wawasan wasathiyah).
BACA JUGA:
FK Unisma Bahas Obat Herbal untuk Cegah Efek Polutan
Lebih lanjut, pihaknya berharap adanya pemahaman baru Barat agar dapat tertarik pada Islam. Pandangan yang dapat merubah mindset orang Barat sehingga akan lebih terbuka dalam menerima Islam bahkan bisa jadi akan tertarik untuk belajar tentang Islam dan menjadi muslim.
“Ya tentu tujuan lainnya agar supaya mahasiswa tidak terpapar pada isu isu radikalisme, dan radikalisasi. Pemahaman toleransi yang kita kembangkan di sini untuk memberi pemahaman pada mahasiswa juga,” pungkasnya. [dan/suf]






