Kediri (beritajatim.com) – Gelombang udara di langit Kediri tak lagi sama. Berhentinya Radio Radio Wijang Songko (RWS) FM tak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi pendengarnya tetapi juga alumni atau orang yang pernah mengisi siaran di dalamnya.
Salah satunya adalah Gita Nurani Dewi, penyiar RWS yang dikenal dengan nama Dewi Cahya atau akrab disapa Mbok Yah pada masanya ini meninggalkan banyak kenangan dan pelajaran yang tak terlupakan.
Bagi banyak orang, RWS adalah denyut nadi informasi, namun bagi mereka yang pernah berada di balik mikrofon, institusi ini adalah kawah candradimuka yang menempa mental dan keahlian. Dewi mengenang masa-masa keemasannya saat harus berjibaku dengan berbagai tanggung jawab di luar urusan cuap-cuap di udara.
“Aku banyak tambahan ilmu. Yang pastinya mulai dari ilmu off air, EO, marketing, dll, juga menjalankan kegiatan-kegiatan off air, kayak nata event-event terus kemudian memanage jadwal,” ujarnya.
Dedikasi tersebut membuktikan bahwa industri radio menuntut profesionalisme yang melampaui sekadar suara merdu.
Menurut Dewi, RWS bukan hanya sekedar radio hiburan, ada banyak ilmu pengetahuan dan wawasan yang ia pelajari. Sebab di radio yang telah mengudara selama 58 tahun tersebut dituntut untuk selalu upgrade dan update informasi perkembangan zaman.
Kedisiplinan untuk terus relevan menjadi kunci mengapa radio ini mampu bertahan hampir enam dekade melintasi berbagai generasi pembaca dan pendengar di Jawa Timur.
“Apapun beritanya, mulai dari hiburan, musik, kemudian politik, informasi kesehatan, pokoknya semuanya. Bahkan mendunia, kalau dia SK-RWS dulu begitu, kita harus bisa update itu dengan cepat,” jelasnya.
Fleksibilitas konten inilah yang membuat RWS menjadi rujukan utama masyarakat, mulai dari urusan politik hingga tren gaya hidup global.
Bahkan, lanjutnya, di program musik pun bukan hanya sekedar campur sari dan dangdut tetapi juga musik pop, mandarin, manca, nostalgia, hingga K-Pop yang banyak diminati kaum muda pada masanya. Kemampuan adaptasi penyiar diuji di sini; mereka harus mampu berpindah genre dan karakter dalam sekejap untuk memenuhi selera audiens yang beragam.
“Jadi semuanya, ya news, ya keagamaan, ya musik. Musik itu kalau di sana dulu enggak cuman dangdut campursari tok. Jadi kita harus, jadi penyiar yang bisa membawakan semua acara jadi harus bisa all round. Ya, bisa diposisikan jadi penyiar anak muda, dewasa dengan berbagai karakter. Dulu juga pernah siaran K-pop, tapi lebih di SK-nya sih kalau untuk anak muda,” imbuhnya.
Ia juga mengakui, tak sedikit alumni RWS yang kini menjadi orang sukses dengan bidangnya masing-masing terutama di jurnalis. Sebab di radio tersebut secara tidak langsung menjadi sekolah bagi mereka. Pengalaman di RWS seringkali menjadi fondasi kuat bagi para praktisi media di Jawa Timur untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
Dewi, sapaan akrabnya memulai karir di RWS FM sendiri sekitar tahun 2009, tepatnya di SK (Suara Kediri), radio dibawah naungan RWS FM. Masa itu, Dewi memainkan tiga tokoh suara, di antaranya Mbok Yah, suara karakter nenek-nenek yang juga sempat ikonik di RWS FM.
Kehadiran karakter ini memberikan warna tersendiri bagi pendengar setia yang merindukan sentuhan personal dan kedekatan budaya lokal.
“Ada suara Mbok Yah, suara nenek-nenek yang dulu sempat jadi ikonnya RWS juga. Kalau acara campursari SK RWS pasti kenal dengan Mbok Yah,” katanya.
Selain suara asli, di radio kembangan RWS FM tersebut Dewi juga memerankan suara anak kecil yang dikenal dengan Menuk. Kemampuan memainkan multi-karakter ini menjadi bukti betapa kreatifnya talenta yang lahir dari rahim RWS FM.
Sementara di RWS sendiri, wanita yang kini berusia 45 tahun itu lebih banyak memegang program Campursari di jam 12.00 WIB siang dan di jam 20.00-22.00 WIB. Jam-jam krusial tersebut adalah waktu di mana masyarakat Kediri dan sekitarnya biasanya beristirahat sembari mendengarkan alunan musik tradisional yang dikemas secara modern.
“Waktu itu RWS sempat kekurangan penyiara cambusari sama Dangdut. Jadi aku digeser, membantu di RWS. Lumayan sih aku di SK RWS hampir, hampir 7 tahun kalau enggak salah ya. Sampai tahun 2016 akhir,” kenangnya.
Masa tujuh tahun tersebut bukan sekadar angka, melainkan perjalanan emosional yang membentuk jati dirinya hingga saat ini.
Kabar berakhirnya siaran Radio RWS juga membuatnya terkejut, karena bagaimana pun disanalah ia bisa hingga seperti sekarang yang masih menjadi reporter di stasiun TV swasta di Kediri, KSTV, pendongeng, dan juga seniman khususnya MC berbagai acara. Kehilangan ini terasa seperti kehilangan bagian dari rumah sendiri bagi para alumninya.
“Dua hari yang lalu sih ya, kaget, syok dengarnya. Karena radio ini kan bisa dibilang radio pertama dan radio tertua. Dan sudah menghibur masyarakat Kediri dan sekitarnya itu kan sudah cukup lama banget mulai saya belum lahir sampai sekarang sampai anak saya enam,” katanya.
Rentang waktu 58 tahun bukanlah durasi yang singkat untuk sebuah pengabdian di jalur frekuensi. Tak sedikit pula para pendengar khususnya fans lamanya yang menanyakan kebenaran kabar tersebut. Karena radio legendaris tersebut telah menemini masyarakat Kediri selama hampir enam dekade, menciptakan ikatan batin yang sulit diputuskan begitu saja oleh perubahan zaman digital.
Meski begitu, ia berharap RWS FM bukan off namun hanya sekedar jeda sehingga bisa muncul kembali dengan formula yang lebih fresh sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Harapan ini mewakili suara hati ribuan pendengar yang masih menginginkan suara khas RWS FM menyapa pagi dan malam mereka kembali.
“Semoga ke depannya akan ada manajemen baru yang lebih baik dan fresh lagi dengan formula baru, bisa terus mengikuti tren perubahan dan perkembangan zaman. Sehingga nama RWS FM ini nanti benar-benar tidak hanya akan menjadi sebuah museum saja, tapi benar-benar tetap bisa membudaya, menghibur masyarakat dengan ciri khasnya RWS sendiri,” tandasnya. [nm]






