Blitar (beritajatim.com) – Sektor pertanian tembakau di Kabupaten Blitar bakal semakin menggeliat, pasalnya jelang akhir tahun ini para petani akan mendapatkan suntikan alat terbaru. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar, melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), tengah memfinalisasi penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2025.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas pembagian bantuan, melainkan strategi jangka panjang Pemkab Blitar untuk mendorong modernisasi di tingkat petani. Dengan mekanisasi, petani tembakau Blitar diharapkan mampu memangkas biaya produksi yang kian tinggi dan mengejar efisiensi waktu tanam.
Plt Kepala Bidang Sarana Perkebunan DKPP Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, mengonfirmasi bahwa proses pengadaan kini telah memasuki tahap akhir. Bantuan berupa hand tractor dan cultivator tersebut dijadwalkan akan didistribusikan langsung ke kelompok tani pada bulan Desember mendatang.
“Untuk saat ini masih proses pengadaan, dan ini menjadi satu-satunya kegiatan DBHCHT fisik yang belum terealisasi. Namun, penyalurannya insyaallah dipastikan dilakukan akhir tahun ini, Desember 2025,” ungkap Siswoyo saat ditemui, Senin (17/11/2025).
Siswoyo memaparkan, sasaran utama bantuan ini adalah kelompok tani di sentra-sentra tembakau, seperti Kecamatan Selopuro dan Talun. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada analisis kebutuhan lapangan dan potensi produktivitas wilayah.
Dalam kalkulasi DKPP, kehadiran mesin pertanian modern akan menjadi solusi atas tantangan klasik petani: ketergantungan pada cuaca dan tingginya upah tenaga kerja manual. Dengan hand tractor dan cultivator, pengolahan lahan bisa dilakukan jauh lebih cepat.
“Harapannya, dengan adanya bantuan ini proses budidaya bisa lebih maksimal. Mulai dari persiapan lahan yang cepat, penanaman yang tepat waktu, hingga pascapanen. Efisiensi ini otomatis akan menekan biaya produksi,” tuturnya.
Lebih jauh, modernisasi alat ini juga merupakan respons Pemkab Blitar terhadap permintaan pasar industri rokok nasional yang mulai kembali melirik potensi tembakau lokal. Siswoyo menyebut, varietas tembakau Selopuro kini tengah naik daun. Karakter daunnya yang khas dan aromanya yang kuat menjadi daya tarik tersendiri bagi pabrikan rokok.
Oleh karena itu, menjaga konsistensi kualitas menjadi harga mati. Pengolahan tanah yang baik menggunakan mesin dinilai akan memengaruhi kualitas akhir daun tembakau.
“Banyak produsen yang menaruh perhatian kembali pada tembakau khas Blitar, terutama varietas Selopuro. Karena itu, kualitasnya harus terus kita perbaiki agar daya saingnya tinggi,” tegas Siswoyo.
Melalui DBHCHT, pemerintah tidak hanya ingin memberikan “ikan”, tetapi juga “kail” yang lebih canggih. Siswoyo menegaskan visi besarnya adalah mengubah pola pikir (mindset) petani dari tradisional menuju pertanian yang terukur dan berstandar industri.
Bantuan alsintan ini hanyalah pintu masuk. Di baliknya, terdapat program pembinaan berkelanjutan agar petani mampu mengoperasikan teknologi tersebut untuk mendongkrak pendapatan mereka secara signifikan.
“Kami ingin petani tembakau di Blitar naik kelas, bekerja dengan standar yang jelas dan hasil yang terukur. Intinya adalah meningkatkan perekonomian petani tembakau yang ada di Blitar,” ujarnya optimistis.
Dengan paduan dukungan teknologi, pasar yang terbuka lebar, serta varietas unggulan yang dimiliki, DKPP optimistis kesejahteraan petani tembakau Blitar akan mengalami tren positif dalam beberapa tahun ke depan. Penyaluran alsintan di penghujung 2025 ini diharapkan menjadi tonggak awal transformasi tersebut. (owi/kun)






