Yogyakarta (beritajatim.com) – Pasar saham Indonesia tengah mengalami masa sulit alias ambruk. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum menunjukkan tanda-tanda bangkit dari keterpurukan, usai anjlok dalam beberapa pekan terakhir.
Tekanan global, harga komoditas yang melemah, dan kekhawatiran inflasi menjadi pemicu utama.
Namun di balik gejolak pasar ini, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) justru melihat peluang tersembunyi. Kepala Departemen Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Dr. I Wayan Nuka Lantara, menyebut bahwa kondisi seperti ini bisa menjadi momentum pembelajaran bagi investor pemula.
“Kalau dilihat dari sisi harga, sekarang ini momen saham sedang diskon besar-besaran. Tapi tetap harus cermat, jangan sampai beli karena ikut-ikutan. Pilih saham dari perusahaan yang sehat dan punya prospek jangka panjang,” ujarnya dalam siaran pers kemarin.
Menurut Wayan, sebelum mulai berinvestasi, masyarakat perlu memastikan keuangan pribadi dalam kondisi aman. Kebutuhan pokok harus sudah tercukupi, punya dana darurat, baru alokasikan sebagian uang untuk investasi. Ia bahkan mengingatkan tren ‘mantap’ alias makan tabungan yang bisa jadi bumerang. “Kalau asal taruh uang di saham padahal tabungan cekak, ya bisa-bisa habis tanpa hasil,” katanya.
Investasi Bukan Soal Hoki
Lebih lanjut, Wayan menegaskan bahwa investasi bukan perkara untung-untungan atau sekadar mengikuti tren. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, keputusan yang diambil secara emosional justru bisa memperbesar risiko kerugian.
“Jangan tergoda cuan besar sampai lupa prinsip dasar. Gaji 10 juta tapi 9 juta diinvestasikan, apalagi sampai ngutang, itu bahaya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti keanehan pasar belakangan ini, termasuk harga emas yang naik-turun, nilai Bitcoin yang menurun drastis, hingga saham-saham teknologi AS yang ikut terseret. Menurutnya, ini menandakan bahwa pola lama tak bisa lagi jadi pegangan mutlak.
Meski begitu, ia tetap menekankan pentingnya berinvestasi untuk menjaga daya beli jangka panjang. “Kalau semua uang dipakai konsumsi, pelan-pelan nilainya tergerus inflasi. Investasi itu seperti sekoci yang menyelamatkan kita di masa depan,” jelasnya.
Tiga Bulan ke Depan: Belum Ada Harapan Cerah
Melihat tren pasar ke depan, Wayan mengaku belum menemukan sinyal positif yang signifikan. Ia justru melihat kecenderungan pesimisme masih akan membayangi hingga beberapa bulan ke depan. “Kalau tidak ada perubahan sentimen atau insentif baru, kondisi ini bisa membahayakan,” ujarnya.
Sebagai solusi, ia menyarankan pemerintah untuk mengevaluasi struktur ekspor nasional yang masih terlalu bergantung pada komoditas seperti batubara dan nikel. “Kita harus mulai cari peluang baru di luar sektor tradisional agar ekonomi tidak gampang goyah saat tekanan global datang,” pungkasnya. [aje]






