Jember (beritajatim.com) – Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman melihat ada upaya kesengajaan menciptakan calon tunggal melawan kotak kosong dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, saat bertemu sejumlah elite politik di Jakarta.
Dari delapan partai yang memiliki kursi di DPRD Jember, tujuh partai mendukung Muhammad Fawait dan Djoko Susanto. Hanya PDI Perjuangan yang masih belum menentukan sikap, kendati mengeluarkan surat tugas untuk Bupati Hendy Siswanto dan politisi Gerindra Fawait.
Situasi ini membuat Firjaun prihatin dan membantu Hendy memperoleh rekomendasi. “Kalau sampai terjadi kotak kosong, rakyat tidak diberi pilihan,” katanya, usai menghadiri acara tasyakuran dan konsolidasi di kantor Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (21/8/2024) sore.
“Ketika fenomena (calon tunggal melawan) kotak kosong muncul di Jakarta dan, menurut informasi Pak Mahfud MD, ada 36 kabupaten dan kota yang diskenario kotak kosong, ada yang menyampaikan: iki kok durung-durung dipek kabeh (ini kok belum-belum sudah diambil semua,red). Dari situ (saya kemudian berpikir): wah ini demokrasi tidak boleh mati. Demokrasi harus hidup. Kalau rakyat hanya diberi satu pilihan, demokrasi mati,” kata Firjaun.
Menurut Firjaun, calon tunggal dalam pilkada Jember membuat rakyat skeptis dan apatis terhadap partai. “Bisa-bisa antiklimaksnya memenangkan bumbung kosong sebagai wujud protes. Partai ini kan sebetulnya saluran aspirasi rakyat. Kalau kemudian aspirasi rakyat dibuntu, terus apa fungsi partai?” katanya.
Namun, saat semua pintu pencalonan tertutup, Firjaun masih meyakini adanya pertolongan Tuhan. “Skenario Sutradara Agung ini tidak bisa dikalahkan. Bagaimana pun rekayasa manusia, tidak akan bisa mengalahkan skenario Allah SWT. Dan ini unpredictable betul kan? Tidak ada yang mengira, ambang batas (jumlah kursi syarat) pencalonan diturunkan,” katanya.
Mengacu pada putusan MK, syarat pencalonan di Jember turun dari 20 persen suara menjadi 6,5 persen suara pemilu. Dengan demikian, dari delapan partai pemilik kursi di DPRD Jember, tujuh partai bisa mencalonkan bupati dan wakil bupati, yakni Gerindra, PKB, PDI Perjuangan, Nasdem, Golkar, PKS, dan PPP.
“Setelah ada putusan MK, demokrasi kembali bersinar. Saya yakin ini akan berjalan. Ketika demokrasi berjalan, maka insyaallah yang terpilih adalah yang terbaik,” kata Firjaun.
“Ibarat ayakan, kalau yang diayak cuma satu, mana perbandingannya? Kita baru bisa tahu nilai sesuatu kalau dibandingkan dengan yang lain. Baru kita bisa menilai ini asli atau palsu, setelah kita bandingkan dengan lainnya,” tegas Firjaun.
Arif Wibowo, Ketua DPC PDI Perjuangan Jember yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, juga menegaskan, bahwa partai adalah fondasi dan tulang punggung demokrasi.
“Tanpa partai, kita tidak mungkin bisa menjalankan apa yang menjadi harapan rakyat. Partai adalah refleksi kolektivitas. Tidak saja dari gerakan politik, tapi juga aspirasi dari harapan rakyat,” kata Arif, dalam sambungan video conference, dalam acara tasyakuran di kantor DPC PDIP Jember.
“Dalam sebuah pembiocaraan kecil dengan Mas Hendy (Bupati Hendy Siswanto), saya bilang, kalau situasinya dibiarkan begini terus, maka kartel politik akan menguat dan sudah pasti demokrasi akan mati. Tapi yakinilah, bahwa selalu ada jalan yang akan menuntun kita, yang lebih terang benderang, jalan kebaikan, jalan demokrasi kita. Indonesia akan ditakdirkan menjadi sebuah bangsa yang menguat dari waktu ke waktu meski tantangannya luar biasa,” kata Arif. [wir]






