Bondowoso, (beritajatim.com) – Kopi luwak sempat menjadi primadona dan booming pada tahun 2008 lalu. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010 memberi kado kepada Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd berupa Kopi Luwak.
Artinya, kala itu kopi luwak dianggap mewah dan produk unggulan Indonesia di mata dunia.
Luwak sendiri adalah hewan sejenis musang yang kerap memakan biji kopi pilihan di perkebunan kopi.
Setelah memakannya, Luwak mengeluarkan biji kopi yang ditelannya melalui saluran pembuangan.
Biji kopi yang telah difermentasi di dalam perut Luwak inilah yang kemudian dicuci, diolah hingga disajikan selayaknya seduhan kopi pada umumnya.
Salah satu penghasil kopi luwak terbaik di Indonesia adalah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Yusriadi, pengolah kopi di Kabupaten Bondowoso pernah menggeluti bisnis kopi luwak sejak 2007 lalu.
“Tahun 2008 kopi luwak semakin booming. Harganya per kilogram bisa mencapai Rp2,5 juta untuk pasar domestik. Sedangkan per cangkir dihargai antara Rp150 ribu – Rp250 ribu,” ungkapnya kepada beritajatim.com, Senin (12/8/2024).
Pada tahun 2007, Bondowoso sudah mulai menjual kopi luwak ke beberapa Coffe Shop di wilayah Jakarta.
“Setiap tahun paling banyak 1 ton green bean kopi luwak. Di saat itu, green bean Arabika yang diolah biasa bisa terjual 50 ton per tahun,” ungkapnya.
Yusriadi juga menjual kopi luwak ekspor ke Malaysia dan Vietnam dengan harga Rp 3 juta per kilogram.
“Sekitar 17 tahun berlalu, kini bisnis kopi luwak nyaris kosong di Kabupaten Bondowoso sebab hampir tidak ada permintaan,” akunya.
Dia terakhir kali menjual kopi luwak pada 2013 lalu. Ia menerka, minimnya permintaan kopi luwak karena munculnya specialty coffee yang lebih merata sejak 2010.
“Kemudian faktor harga kopi luwak yang sangat mahal dan populasi luwak yang berkurang,” ulas warga Desa Sukosari Lor, Kecamatan Sukosari, Bondowoso ini.
Ia menyebut, bisnis kopi luwak yang masih berjalan ada di wilayah Sumatera yang ekspor ke Taiwan.
“Kopi luwak karakter paling menonjol itu aroma tanah basah dan lumut. Secara kesehatan saya kurang paham, tapi sepertinya kopi luwak dibeli karena bagian dari rasa gengsi,” terangnya.
Ia menganalisa, pengolahan kopi Arabika modern terkini sebenarnya mengadopsi dari Luwak.
“Mulai dari petik ceri merah, dibuang kulitnya, difermentasi, beberapa jam kemudian dikeluarkan lalu dicuci,” urainya. [awi/beq]






