Jember (beritajatim.com) – Perusahaan Umum Daerah Perkebunan (PDP) Kahyangan milik Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, berharap pasokan kopi dari petani untuk memaksimalkan kinerja tujuh mesin produksi yang saat ini nganggur.
Perusahaan Umum Daerah Perkebunan Jember memiliki sepuluh unit mesin pengeringan dengan kapasitas masing-masing 15 ton gelondong biji kopi untuk memproduksi kopi bubuk bermerek Kopi Kahyangan. “Namun dengan pasokan saat ini, hanya tiga mesin yang beroperasi,” kata Direktur Produksi, Pemasaran, dan Pengembangan Moh. Izmaul Haqqi, Rabu (22/5/2024).
Kahyangan memiliki 1.500 hektare lahan kopi di lima kebun, yakni Sumberpandan di Kecamatan Sumberbaru, Sumber Tenggulun di Kecamatan Tanggul, Gunung Pasang di Kecamatan Panti, Sumberwadung dan Kali Mrawan di Kecamatan Silo.
Namun pasokan dari lima kebun itu tak bisa diandalkan. Selama bertahun-tahun, menurut Izmaul, pemeliharaan kebun kopi sangat minim. “Produktivitas kami per tahun selama tiga tahun berturut-turut tidak sampai 150 ton green bean atau kopi berasan. Sangat kecil. Standarnya 500 kilogram per hektare,” kata Izmaul.
Pemerintah Kabupaten Jember telah memberikan penyertaan modal Rp 15 miliar tahun ini untuk Kahyangan. Manajemen perusahaan bisa saja menginvestasikan sebagian modal untuk perbaikan tanaman itu. “Tapi itu jangka panjang. Sementara uang penyertaan modal harus kami pertanggungjawabkan,” kata Izmaul.
Menutupi kekurangan pasokan, manajemen Kahyangan menghimpun kopi rakyat. “Sama seperti pabrik gula. Kalau pabrik gula mengandalkan pasokan tebu sendiri, mesin-mesinnya idle. Oleh sebab itu ada tebu rakyat. Tebu petani masuk dengan sistem pembelian langsung beli putus atau sistem bagi hasil,” kata Izmaul.
Saat ini sudah ada 12 petani yang sudah memenuhi syarat kredit usaha rakyat perbankan untuk diajak bekerja sama. Izmaul menyatakan, kerja sama dengan petani kopi rakyat baru pertama kali dilakukan Kahyangan dan jumlahnya akan terus meningkat. “Pabrik kopi kami jika tidak beroperasi maksimal, nasibnya akan tutup seperti pabrik gula. Jadi kami harus bekerja sama dengan petani kopi rakyat,” katanya.
Selain memperkuat Kahyangan, Izmaul ingin kerja sama itu juga menyejahterakan petani kopi rakyat. “Kami membeli kopi mereka dengan harga sedikit lebih mahal dibanding harga pasar,” kata alumnus Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember ini.
Upaya bekerja sama dengan petani kopi rakyat ini tak mudah. Kahyangan harus berhadapan dengan para tengkulak yang menerapkan sistem ijon. “Kami tidak bisa meniru perusahaan-perusahaan kopi besar yang berani kasih uang dulu ke petani. Kami tidak punya duit. Maka kami minta ‘rasa nasionalisme Jember’ kepada petani,” kata Izmaul.
Selama ini kualitas kopi dari Jember sebenarnya diakui daerah lain. “Kopi dari Jember banyak merembes ke daerah-daerah lain. Produksi kami 150 ton hanya satu persen dari total produksi di Jember. Misalkan kami bisa menaikkan jadi 5-10 persen saja sudah lumayan,” kata Izmaul.
“Tapi memang kami tidak bisa vis-a-vis dengan pemodal-pemodal besar. Kami berharap, karena Jember ini wilayah kekuasaan PDP Kahyangan, tolong kami dikasih jatah (pembelian kopi rakyat) 5-10 persen. Itu sudah lumayan sesuai kemampuan keuangan kami,” kata Izmaul.
Kahyangan saat ini terus berkampanye dan melakukan sosialisasi di kalangan petani kopi rakyat di Jember. “Jadi rasa ‘nasionalisme’ Jember-nya muncul, sehingga bisa menghargai produk sendiri dan memajukan perekonomian daerah sendiri,” kata Izmaul.
Izmaul mengatakan kerja sama ini saling menguntungkan. Petani selama ini sering mengalami kesulitan dalam proses pengeringan kopi. “Mereka tidak punya teknologi proses. Kami punya alat-alat proses yang outputnya adalah kopi dengan mutu yang sudah ter-grading: Mutu 1, Mutu 2, dan seterusnya,” katanya.
Kerja sama dengan petani kopi rakyat ini dipercaya Izmaul juga akan membantu peningkatan kualitas kopi petani. “Pengolahan kopi pascapanen petani sering tidak patuh (prosedur), dengan memetik (biji kopi yang masih) hijau. Belum merah sudah dipetik. Kedua, proses pengeringannya komvensional sehingga produknya kopi asalan. Kopi asalan ini cenderung dihargai murah oleh tengkulak,” katanya.
Saat ini, petani yang siap bekerja sama berasal dari Kecamatan Sumberjambe, dan petani yang tergabung dalam program One Pesantren One Product (OPOP) milik Pemerintah Provinsi Jatim di Desa Tugusari dan Banjarsari Kecamatan Bangsalsari.
“Kolaborasi ini bisa dengan seluruh LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), karena petani kopi rakyat rata-rata menanam di daerah hutan. Dari data yang kemarin disampaikan pengurus OPOP, 72 ribu hektare hutan ditanami kopi. Jadi memang potensi terbesar di Jember adalah kopi rakyat. Kalau bisa kita edukasi untuk mengolah yang benar dan sesuai standar, itu bisa meningkatkan mutu, dan itu mempengaruhi harga karena setiap mutu berbeda harganya,” kata Izmaul.
Izmaul berharap kerja sama dengan OPOP bisa berlanjut hingga pemasaran kopi bubuk Kahyangan yang selama ini masih dipasarkan secara lokal. “Beberapa waktu lalu OPOP sempat mengekspor kopi ke Jeddah, Arab Saudi. Untuk jaringan pemasaran, kami akan dibantu,” katanya. [wir]






