Yogyakarta (beritajatim.com) – Forum R20 atau Religion Forum telah menghasilkan banyak kesepakatan dan inisiatif yang signifikan. Salah satu inisiatif dan kesepakatan penting yang lahir dari Forum R20 adalah kesepakatan global untuk menjadikan agama sebagai sumber solusi, bukan sebagai sumber masalah. Hal ini diharapkan dapat mendorong upaya untuk menghentikan peperangan yang masih berlangsung dan berhubungan dengan agama.
Kesepakatan ini dicapai setelah diskusi dan peluncuran buku prosiding G20 Religion Forum atau R20 “Proceedings of the R20 International Summit of Religious Leaders” di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (4/8/2023). Buku ini berisi 47 makalah dan mencakup catatan reflektif serta kesepakatan bersama dari berbagai pemimpin agama di seluruh dunia atas keprihatinan akan munculnya konflik dengan latar belakang sosial keagamaan yang merusak tatanan nilai peradaban manusia.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyatakan bahwa inisiatif R20 bertujuan untuk membuat agama sebagai sumber solusi dalam dinamika global yang terjadi. “Kami sedang mencari cara untuk terus menegakkan agama kami dan menjadikannya sebagai kontribusi bagi peradaban yang akan datang, di mana seluruh masyarakat terbebas dari kesulitan akibat perang. Oleh karena itu, terciptanya inisiatif R20 adalah untuk mengubah pandangan bahwa agama adalah sumber masalah, dan mulai menganggapnya sebagai sumber solusi,” jelas Gus Yahya.
Ahmad Munjid, Kepala Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (UGM), juga menyampaikan bahwa perhelatan Forum R20 telah membuka perspektif baru bahwa agama bukanlah bagian dari masalah, tetapi bagian dari solusi. “Forum R20 telah menunjukkan bahwa agama dapat menjadi kekuatan positif untuk perdamaian dan pembangunan. Agama dapat menjadi sumber nilai-nilai moral dan etika yang dapat membantu kita membangun dunia yang lebih adil dan sejahtera,” kata Munjid.
Rektor UGM, Prof Ova Emilia, memberikan apresiasi atas inisiatif PBNU yang telah menggagas serangkaian forum dialog antaragama. Dia menegaskan bahwa posisi Indonesia dalam forum ini menunjukkan bagaimana peran diplomasi agama dapat menciptakan perdamaian, stabilitas sosial, membangun dialog dan perdamaian antar bangsa.
“Indonesia adalah negara yang majemuk, dengan berbagai agama dan budaya yang hidup berdampingan secara harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa kita mampu menjaga kerukunan dan kedamaian antar umat beragama. Forum R20 merupakan salah satu upaya untuk memperkuat kerukunan dan kedamaian antar umat beragama,” kata Ova.
Buku prosiding R20 diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemimpin dunia dalam mengambil kebijakan global yang lebih bijaksana. Buku ini merupakan kompilasi dan catatan reflektif dari pemuka agama dunia yang berkumpul di Bali dalam acara R20 pada November 2022.
“Buku ini merupakan ikhtiar kami untuk memberikan kontribusi bagi dunia yang lebih baik. Kami berharap buku ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi pemimpin dunia untuk mengambil kebijakan yang lebih bijak dan membangun dunia yang lebih damai,” kata Gus Yahya. (aje/kun)
BACA JUGA: Gus Yahya: Semua Bertanggungjawab Ciptakan Hidup Harmonis






