Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 5 siswa SMA Negeri 2 (SMADA) Surabaya berhasil membawa pulang prestasi dari ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention and Technology Exposition (IPITEx).
Kelima siswa tersebut bahkan memborong dua penghargaan sekaligus lewat inovasinya berupa Elderly Monitoring System With Artificial Intelligence (EMS-AI).
“Inovasi ini sangat aware dengan kondisi saat ini. Ketika seluruh anggota keluarga sibuk beraktifitas di luar, maka kewajiban untuk berbakti kepada orang tua tetap dapat dilakukan dengan dukungan teknologi yang dikembangkan berbasis AI,” ujar Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Senin (13/2/2023).
Khofifah mengklaim EMS-AI adalah wujud nyata implementasi IKI (Inisiatif, Kolaboratif dan Inovasi) yang dicetuskannya sebagai jawaban atas tantangan masa depan. Menurutnya, itu bisa dilihat dari inisiatif para siswa untuk menggali persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Khofifah menyebut, dari inisiatif itulah kemudian mereka membangun kolaborasi untuk menemukan solusi berupa inovasi sistem pengawasan. “Kita terus berharap bahwa anak-anak didik kita di sekolah maupun di perguruan tinggi terus meningkatkan semangat IKI dalam mengembangkan daya saing dan menjawab tantangan masa depan,” harapnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”viral”]
Adapun kelima siswa tersebut antara lain Muhammad Rezqy Agung, Fazil Sabillarasyad, Muhammad Thufail Addausy, Hernawan Santosa, dan Ayman Nawwaf Alfina. Sedangkan EMS-AI sendiri merupakan sistem monitoring berbasis AI atau kecerdasan buatan untuk mengawasi orang tua yang hidup mandiri tanpa keluarga.
Dijelaskan Rezqy, inovasi EMS-AI memiliki kelebihan yakni tetap memperhatikan privasi orang tua. Pasalnya, inovasi ini bisa berfungsi tanpa harus memakai kamera CCTV.
Untuk menciptakan sistem pengawasan ini, ia bersama timnya membuat perangkat dengan empat sensor khusus. Di antaranya sensor gerak, sensor suhu, sensor pintu dan sensor detak jantung. Dari data yang tersimpan di data base, sistem AI mengelolanya sebagai kebiasaan rutin orang tua.
“Pengambilan data kebiasaan itu dilakukan antara tiga minggu sampai satu bulan. Data tersebut akan dikelola dengan sistem AI dan dijadikan sebagai data kebiasaan hidup,” paparnya. [ipl/but]






