Surabaya (beritajatim.com) — Di balik gemerlap pusat perbelanjaan dan deru pembangunan yang tak pernah benar-benar tidur, Surabaya menyimpan lapisan realitas yang kerap luput dari perhatian. Realitas itu bukan tidak ada, melainkan sering kali dinormalisasi—dianggap biasa—hingga tak lagi terasa sebagai persoalan bersama.
Melalui program Screening Film Dokumenter dan Diskusi bertajuk “Titik Buta”, mahasiswa Creative Media Communication angkatan 2023 Universitas Kristen Petra (UK Petra) berupaya membongkar sisi-sisi yang terpinggirkan itu. Pemutaran digelar pada Kamis, 12 Februari 2026 pukul 19.00–21.00 WIB di CGV Maspion Square dan dihadiri sekitar 112 penonton.
Tiga film dokumenter ditayangkan malam itu. Berbeda tema, namun memiliki satu benang merah: mengangkat “titik buta” sosial yang selama ini tidak disadari, diabaikan, atau justru diterima sebagai kewajaran.
All You Can’t Eat
Film pertama berjudul “All You Can’t Eat” karya Whitnie Odelyn Siauw dan tim. Dokumenter ini menyoroti paradoks klasik kota besar: tingginya angka food waste di satu sisi, dan sulitnya akses makanan layak di sisi lain.
Di Surabaya—seperti banyak kota metropolitan lain—pemborosan makanan kerap dipandang sebagai konsekuensi gaya hidup modern. Restoran all you can eat, pesta berlimpah, dan sisa makanan rumah tangga menjadi gambaran keseharian. Namun film ini mengajak penonton bertanya: apakah benar pemborosan itu sekadar dampak tak terhindarkan dari kemajuan?
Mahasiswa mencoba membongkar asumsi tersebut. Mereka memperlihatkan bahwa food waste bukan hanya persoalan etika konsumsi, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan ekologis—mulai dari ketimpangan distribusi pangan hingga kontribusi limbah makanan terhadap emisi gas rumah kaca.
Isu ini disebut sebagai “titik buta” karena sering terjadi di depan mata, tetapi jarang dianggap sebagai masalah struktural yang membutuhkan solusi kolektif.
Ini Belum Selesai
Karya kedua, “Ini Belum Selesai” garapan Shanelle Keisha Susanto dan tim, membawa penonton ke Tambak Bayan—kampung pecinan tertua di Surabaya yang sejak 2009 terjerat sengketa tanah dengan pihak swasta.
Konflik ini bukan sekadar perkara hukum. Film tersebut menampilkan bagaimana warga hidup dalam ketidakpastian panjang, di tengah ancaman kehilangan ruang tinggal yang telah diwariskan lintas generasi.
Sosok Suseno Karja dan warga lainnya menjadi potret bagaimana seni dipilih sebagai napas perlawanan. Di tengah kebuntuan administratif dan tarik-ulur legalitas, kesenian hadir sebagai medium ekspresi, pengikat solidaritas, sekaligus cara menjaga ingatan kolektif.
Dokumenter ini tidak berhenti pada konflik “perebutan” lahan. Dalam proses riset selama empat bulan (September–Desember 2025), tim menemukan bahwa persoalan agraria tersebut berkelindan dengan sejarah panjang, termasuk jejak kebijakan era kolonial Belanda.
“Ini Belum Selesai” menjadi refleksi atas situasi transisi tanpa kepastian—serta potret kegagalan sistem dalam menghadirkan penyelesaian yang adil bagi warga kecil.
Rail Estate
Film ketiga, “Rail Estate” karya Nathalie Celine Gunawan dan tim, mengangkat isu kesehatan publik melalui kehidupan warga Dupak Magersari, kampung pinggir rel di Surabaya yang terdampak fenomena urban heat island (UHI).
Kawasan padat, minim ruang hijau, dan paparan panas ekstrem menjadi keseharian warga. Suhu tinggi bukan lagi sekadar ketidaknyamanan, tetapi ancaman nyata terhadap kesehatan.
Dokumenter ini menunjukkan bahwa mitigasi panas perkotaan sering kali tidak hadir sebagai tanggung jawab struktural pemerintah. Sebaliknya, beban adaptasi justru dipikul oleh warga—melalui modifikasi rumah seadanya atau strategi bertahan lainnya.
“Rail Estate” menyingkap “titik buta” dalam tata kelola kota: ketika persoalan iklim lokal dianggap sebagai risiko individual, bukan tanggung jawab sistemik.
Pengalaman Industri Sejak Bangku Kuliah
Dosen pengampu mata kuliah Produksi Film Dokumenter UK Petra, Daniel Budiana, S.Sos., M.A., menjelaskan bahwa sejak 2021 karya mahasiswa rutin diputar di bioskop komersial seperti CGV Cinemas.
“Setiap tahunnya topiknya berbeda, namun harapannya mahasiswa memiliki pengalaman otentik merasakan dinamika industri secara langsung,” ujarnya.
Setiap film diproduksi oleh kelompok berisi enam hingga tujuh mahasiswa. Prosesnya tidak singkat—mulai dari riset lapangan intensif, pendalaman karakter, hingga pascaproduksi yang ketat.
Tak berhenti di layar komersial, seluruh film dalam proyek “Titik Buta” juga didaftarkan ke berbagai festival film nasional dan internasional. Beberapa di antaranya menunggu pengumuman dari Globale Mittelhessen (Jerman), Lenses Vancouver International Film Festival, Pigdon Street International Film Festival, Freedom Film Fest, dan Seoul Human Rights Film Festival.
Film dokumenter ini merupakan upaya menyalakan kesadaran—bahwa di balik yang tampak biasa, sering tersembunyi persoalan luar biasa yang menunggu untuk diselesaikan bersama.
“Lebih dari sekadar tontonan, kehadiran film-film ini diharapkan mampu mengajak masyarakat untuk lebih peka dan memberi perhatian terhadap isu sosial di sekitar yang selama ini jarang terdengar,” tutup Daniel. (fyi)






