Kediri (beritajatim.com) – Jalan Stasiun di Kota Kediri kini bertransformasi menjadi koridor wisata yang menghidupkan kembali memori kolektif tentang lahirnya kota modern Kediri melalui sebuah karya film dokumenter.
Dokumenter singkat karya Imam Mubarok, Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri sekaligus Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, merekam dinamika kawasan tersebut sejak satu abad lalu saat masih menjadi bagian penting dari tata kota kolonial.
Film ini menyoroti keterhubungan Jalan Stasiun dengan Stasiun Kediri yang resmi dibuka pada 13 Agustus 1882 oleh perusahaan kereta api Negara Belanda, Staatsspoorwegen. Bangunan bergaya Indische Empire yang kokoh tersebut bukan sekadar titik transportasi, melainkan pintu masuk utama pengaruh kolonial ke wilayah Kediri.
“Ini bukan sekadar nostalgia. Jalan Stasiun adalah jalan lama, bangunan lama, dan bagian penting dari sejarah masuknya kolonial ke Kediri,” ujar Gus Barok.
Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa sejak abad ke-17, kawasan Jalan Stasiun hingga area yang kini berdiri Hotel Grand Surya merupakan bagian dari alun-alun Kediri. Wilayah tersebut menjadi saksi bisu peristiwa besar, termasuk penyerangan terhadap Trunojoyo pada 1678 di Setono Gedong.
Struktur administratif kabupaten baru terbentuk pada abad ke-18 dengan pembangunan Pendopo Kabupaten pada masa Slamet Purbonegoro sebagai bupati pertama dalam sistem kolonial.
Gus Barok menekankan pentingnya meluruskan sejarah mengenai status administratif Kota Kediri. Menurutnya, pengakuan sebagai Kota Praja terjadi pada 1 April 1906 di era Gementee, yang menjadi tonggak awal pembentukan kota modern. “Kalau bicara Kota Kediri sebagai kota, ya mulainya 1 April 1906. Itu yang sering keliru dipahami,” kata Gus Barok.
Ia menyoroti bahwa perkembangan kota yang masif saat ini mulai mendesak ruang-ruang sejarah. Berdasarkan peta tahun 1913, kawasan yang kini padat dulunya merupakan ruang terbuka hijau yang tertata.
Ia mengkritisi perombakan bangunan lama yang mengabaikan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, seperti hilangnya Kantor Society Brantas yang kini menjadi lokasi Gedung Nasional Indonesia (GNI).
Dalam visi pengembangan pariwisata, Gus Barok berpendapat bahwa daya tarik Jalan Stasiun harus bermula dari kepemilikan emosional warga lokal atau akamsi. “Kalau warga sudah menikmati dan mencintai, daya tarik wisata akan datang dengan sendirinya,” ujarnya.
Dokumenter bertajuk Jalan Stasiun ini merupakan karya kedua yang dirilis Imam Mubarok melalui media sosial sebagai bagian dari upaya konservasi sejarah visual yang telah ia tekuni sejak tahun 2000. Melalui Kediri Fotografi Museum, ia terus mengumpulkan arsip foto dari abad ke-18 untuk memberikan edukasi bagi generasi muda.
“Tujuannya sederhana. Supaya generasi berikutnya tahu, ini loh Kediri yang kita miliki. Membangun itu harus belajar dari masa lalu, bukan asal membangun,” kata dia.
Narasi dalam film tersebut juga mengulas tentang Standplat Kediri sebagai ruang peralihan penumpang. Dahulu, standplat pertama berada di Jalan Stasiun (kini lahan parkir Dinas Perhubungan) sebelum berpindah ke selatan Alun-alun (lokasi Dhoho Plaza) pasca-kemerdekaan sekitar akhir tahun 1950. Perubahan nama jalan juga terekam, di mana Jalan Alun-alun kini telah berganti menjadi Jalan Panglima Sudirman.
“Kediri itu napas kita. Bagian dari hidup kita. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga sejarahnya,” ucap Gus Barok.
Film dokumenter yang merekam kilas balik transportasi dan tata kota Kediri ini dapat disaksikan oleh publik melalui akun Instagram @ngabehi_kidulpasar. [nm/kun]






