Malang (beritajatim.com) – 13 inovasi karya mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya (Fisip UB) Malang siap digunakan untuk membantu proses sosialisasi pemilu 2024.
Inovasi tersebut dipamerkan di lantai 1 gedung B Fisip diantaranya Engklek Pemilu, Electopoly, Buzzers, Harry Potter dan sejumlah inovasi lain.
Dosen Ilmu Politik UB, Wawan Sobari PhD menjelaskan, inovasi yang dimunculkan mahasiswa ini adalah buah karya dari mata kuliah Kewirausahaan Politik. Alat tersebut menitikberatkan pada permainan sehingga membuat pemilih pemula tertarik tentang adanya Pemilu.
“Mahasiswa tidak hanya diberikan dasar pengetahuan tentang kewirausahaan politik saja, namun juga mendesain bentuk nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Selama ini orang fokus bahwa kewirausahaan selalu dalam konteks ekonomi atau bisnis. Namun kewirausahaan dalam konteks Fisip adalah kewirausahaan sosial dan politik,” kata Wawan Sobari.
Prinsip dari inovasi yang dipamerkan, kata Wawan, agar kampus melakukan pembaharuan di masyarakat. Sementara mahasiswa diminta agar mengasah skill mendesain perubahan pembaruan di masyarakat.
“Keberadaan inovasi ini, membuat mahasiswa selain mendapat teori juga akan mampu memahami perihal kewirausahaan dengan metode ilmu politik. Semua ini dilakukan untuk mencari hal hal baru di masyarakat,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemilu-2024″]
Dosen yang pernah belajar di Doktor Flinders University of South Australia tersebut menerangkan jika project game edukasi bertujuan membantu sosialisasi pada pemilih pemula. “Para mahasiswa mendorong agar sosialisasi Pemilu tidak lagi bersifat klasikal sehingga bisa lebih menyentuh ke pemilih pemula,” tandas Wawan Sobari.
Inovasi yang dimunculkan oleh mahasiswa Politik UB ini, katanya melanjutkan, akan efektif ke pemilih pemula seperti mahasiswa baru atau bisa diadopsi untuk sosialisasi di SMA. Dia berharap agar ada feedback dari permainan yang dimunculkan ini. Sehingga bisa dilakukan evaluasi agar inovasi ini semakin diterima oleh berbagai pihak.
“Inovasi yang dimunculkan semua adalah gagasan mahasiswa. Sebagai dosen, saya hanya membantu menajamkan gagasan mereka. Saya berharap kegiatan ini bagian dari kampanye publik bahwa sosialisasi pemilu tidak harus dilakukan klasikal, dan bisa dilakukan dua arah. Semoga tahun mendatang eksebisi ini bisa dilakukan lebih baik,” tutupnya. (dan/ted)






