Bondowoso (beritajatim.com) – Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, kembali melontarkan kritik tajam terhadap struktur ekonomi nasional yang dinilai timpang dan monopolistik.
Dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional Majelis Alumni IPNU di Pendopo RBA Ki Ronggo Bondowoso, Sabtu (2/8/2025), Zulhas membandingkan karakter dan peran pengusaha besar di Indonesia dengan mereka yang berasal dari Tiongkok dan Korea Selatan.
“Pengusaha besar di Tiongkok itu go internasional, bersaing di pasar dunia. Produk mereka menguasai pasar global karena ada transformasi dan penguasaan teknologi. Mereka sudah jadi kelas dunia,” ujar Zulhas.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Ia menyebut pengusaha besar di tanah air justru lebih fokus pada konsesi dan monopoli di dalam negeri, bukan pada inovasi atau ekspansi global.
“Dulu minta konsesi kayu, habis kayu minta batu bara, habis itu nikel. Setelah itu apalagi? Bahkan cerutu pun mereka ikut. Yang (pengusaha) besar makan dalam, yang kecil pun diurus juga. Terus rakyat kita mau usaha apa?” tegasnya.
Zulhas menyoroti minimnya ruang bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk tumbuh karena terlalu banyak sektor yang dikuasai oleh segelintir kelompok pengusaha besar. Hal itu, menurutnya, menjadi hambatan serius dalam menciptakan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.
Ia juga menyinggung soal dominasi ekonomi oleh elite terbatas. “Selama 28 tahun reformasi, kita ini cuma berputar-putar. Uang ribuan triliun di perbankan, 80 persennya hanya berputar di 50 grup, milik 10 sampai 20 orang saja,” ungkap Ketua Umum PAN itu.
Zulhas memberikan gambaran nyata betapa dominannya kelompok tertentu dalam menentukan hajat hidup orang banyak. “Minum teh manis, itu diatur 2-3 orang. Makan tempe, tahu, itu 1 orang. Makan roti, mie, juga 1 orang. Telur ayam pun diatur 2 orang. Rakyat kita 280 juta, masa iya mau terus begitu?” katanya.
Pernyataan Zulhas ini menuai perhatian besar dari peserta Munas, terutama kalangan muda yang mulai menyadari tantangan nyata dalam iklim usaha nasional.
Acara Munas Majelis Alumni IPNU di Bondowoso ini menjadi ruang diskusi strategis yang penuh dengan refleksi dan gagasan tentang arah pembangunan nasional, baik dari sisi politik, ekonomi, hingga peran generasi muda dalam membangun masa depan bangsa. (awi/kun)






