Bondowoso (beritajatim.com) – Langkah kaki ratusan petani di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Bondowoso, dulunya sempat diwarnai rasa putus asa. Kelangkaan pupuk kimia yang mencekik pada tahun 2008 memaksa mereka berputar otak agar sawah tempat menggantungkan hidup tidak sampai gulung tikar.
Siapa sangka, jeritan masa lalu akibat krisis pupuk tersebut justru menjadi pintu gerbang menuju kejayaan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Komitmen menjaga lingkungan dan beralih ke cara alami selama hampir dua dekade kini berbuah manis hingga dilirik lintas kementerian.
Desa Lombok Kulon kini bertransformasi menjadi percontohan nasional yang berhasil membuktikan bahwa bertani tanpa bahan kimia bukan cuma gaya hidup, tapi juga mampu membuat dompet makin tebal.
Keberhasilan luar biasa ini mendapat perhatian khusus dari sejumlah kementerian yang turun langsung menggelar sinergi penguatan ketahanan pangan berbasis pertanian organik di Desa Lombok Kulon pada Senin, 20 Juli 2026. Momentum berharga tersebut ditandai dengan penanaman padi bersama hingga pelepasan secara simbolis distribusi beras organik Bondowoso menuju Kalimantan.
Ketua Gapoktan Al Barokah sekaligus Kepala Desa Lombok Kulon, Mulyono mengungkapkan bahwa perjalanan ini dimulai dari peluncuran Sekolah Lapang Pengembangan Pertanian Organik pada 2008. Luas lahan yang semula hanya 20 hektare pada 2016 melesat menjadi 60 hektare pada 2017 dan kini sudah menembus 105 hektare.
Jumlah penggarapnya pun melesat drastis dari yang tadinya hanya 40 orang kini mencapai sekitar 400 petani. Hasilnya, petani tidak hanya memanen beras yang sehat, tetapi juga menikmati harga jual gabah organik yang berkisar Rp1.000 per kilogram lebih tinggi dibandingkan gabah konvensional.
Saat ini beras organik dipasarkan dengan harga Rp20 ribu per kilogram untuk beras nonaromatik, Rp21 ribu beras aromatik, Rp22 ribu beras merah, dan Rp35 ribu per kilogram untuk beras hitam.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Prof. Dr. Eng. Yudi Darma menyampaikan bahwa produktivitas lahan di desa ini luar biasa tinggi. Rata-rata produktivitas padi nasional saat ini berada di kisaran 5,2 ton per hektare, sedangkan lahan organik Lombok Kulon mampu menghasilkan hingga 6,5 ton per hektare.
Perbedaan hasil panen sekitar 1,2 hingga 1,3 ton per hektare tersebut menjadi bukti nyata bahwa sains dan kearifan lokal bisa berjalan berdampingan. Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik turut berharap capaian ini bisa memantik minat generasi muda untuk kembali bangga menjadi petani.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menegaskan komitmen daerahnya untuk terus mendukung swasembada pangan nasional. Pada tahun 2025 saja, produksi padi Bondowoso mencapai sekitar 600 ribu ton dari total Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan seluas 45.000 hektare.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso kini berharap dukungan pemerintah pusat untuk pembangunan rumah produksi pengolahan hasil serta modernisasi alat mesin pertanian pascapanen. Langkah ini penting untuk menekan angka kehilangan hasil panen sekaligus mendongkrak nilai jual produk lokal ke tingkat yang lebih tinggi. [awi/ian]






