Persebaya menangguk sekali kemenangan dan lima hasil seri dalam enam pertandingan terakhir. Satu poin terbaru diperoleh anak asuhan Uston Nawawi di kandang PSM Makassar, Stadion Gelora B. J. Habibi, Parepare, Sulawesi Selatan, Sabtu (6/12/2025).
Di hadapan 6.434 orang penonton, Persebaya berhasil menahan imbang PSM 1-1. PSM unggul lebih dulu melalui Sávio Roberto pada menit 8. Empat menit kemudian Bruno Moreira mencetak gol balasan yang juga menjadi gol terakhir hingga pertandingan kelar.
Dalam tradisi sepak bola Indonesia, hasil imbang di kandang lawan, apalagi salah satu kekuatan sepak bola tradisional, adalah sesuatu yang patut disyukuri. Ini melengkapi keyakinan bahwa dalam sepak bola lebih baik memperoleh satu poin daripada mengakhiri pertandingan dengan tangan hampa.
Ini yang saya sebut sebagai ilusi satu poin. Hasil imbang yang berarti tidak menang dan juga tidak kalah sebenarnya justru membuat sebuah klub sepak bola mudah terlena dalam mengevaluasi kekuatan sendiri.
Anda tahu pertandingan yang selalu dikenang dan bahkan menjadi mitos sepak bola Indonesia, selain pertandingan Hindi Belanda melawan Hungaria pada Piala Dunia 1938, adalah hasil 0-0 melawan Uni Soviet dalam Olimpiade di Melborne, Australia, 29 November 1956.
Saat itu Uni Soviet dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola dunia dengan kiper legendaris Lev Yashin. Kisah keberhasilan menahan Soviet ini direproduksi sepanjang waktu dan seperti melupakan fakta bahwa dalam pertandingan kedua Indonesia digulung 0-4.
Saat sistem poin sepak bola menghadiahkan dua poin untuk kemenangan, satu angka untuk hasil seri, dan nol untuk kekalahan, hasil seri seringkali sangat menguntungkan dalam sebuah kompetisi.
Seandainya kompetisi Liga Inggris musim 1974-75 menggunakan sistem tiga poin, maka juara saat itu bukan Derby County melainkan Ipswich Town. Di antara 22 tim Liga Divisi Pertama saat itu, Ipswich mencetak kemenangan terbanyak, 23 kali. Sementara itu Derby County yang berada di posisi teratas mencetak 21 kemenangan dan 11 kali imbang.
Dengan sistem dua poin, Derby mencatat 53 poin di akhir musim, Liverpool yang berada di posisi runner-up mencetak 51 poin. Sama dengan Ipswich.
Andai saja saat itu sistem tiga poin diberlakukan, Ipswich akan berada di posisi pertama dengan 74 angka, sama dengan Derby, namun dengan selisih gol lebih baik. Sementara Liverpool berada di posisi ketiga dengan 71 angka.
Seandainya sistem dua angka diberlakukan pada musim 2018-19, maka juara Liga Inggris bukan Manchester City, melainkan Liverpool. Dengan sistem dua poin, Liverpool mencetak 67 angka dan City mencetak 66 angka. City menorehkan dua kemenangan lebih banyak. Namun dengan satu kekalahan dan tujuh hasil seri, Liverpool menyalip di akhir musim.
Sistem tiga angka yang mula-mula diberlakukan di Inggris pada musim 1981-82 memang bertujuan membuat liga semakin kompetitif. Dengan tiga angka untuk kemenangan, maka tidak ada lagi tim yang bermain aman mencari hasil imbang, karena hasil imbang membuat mereka kehilangan dua angka. Dengan kompetisi yang ketat, kehilangan dua angka bisa mengubah segalanya di akhir musim.
Dengan demikian, satu kemenangan dan lima hasil seri sejatinya bukan sesuatu yang layak dibanggakan oleh Persebaya. Bajul Ijo memang tidak pernah kalah. Namun tren hasil seri juga bukan sesuatu yang positif.
Hakikat sepak bola adalah memburu kemenangan dan bukan menghindari kekalahan. Ada kalanya kemenangan datang jika sebuah tim berani mengambil risiko untuk keluar menyerang, dan bukannya bertahan dengan berharap tim lawan membuat kesalahan. [wir]






