Surabaya (beritajatim.com) — Cuaca ekstrem yang sulit diprediksi mulai dirasakan masyarakat Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir. Pagi hari terasa panas menyengat, namun menjelang sore tiba-tiba diguyur hujan deras disertai angin kencang. Kondisi ini menjadi tanda wilayah Jatim tengah memasuki masa pancaroba, yakni peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih awal dengan intensitas yang lebih kering dari biasanya. Namun sebelum fase tersebut, masyarakat perlu mewaspadai pancaroba yang diperkirakan berlangsung lebih panjang, terutama pada Maret hingga April.
Secara ilmiah, pancaroba terjadi akibat perubahan arah angin dari Monsun Asia menuju Monsun Australia. Perubahan ini memicu ketidakstabilan atmosfer, sehingga cuaca menjadi dinamis dan ekstrem dalam waktu singkat.
“Ciri khas pancaroba adalah perubahan cuaca yang cepat. Pagi bisa sangat panas, lalu sore hari hujan lebat bahkan disertai angin kencang dan petir,” demikian pola umum yang dijelaskan BMKG.
Selain itu, fenomena global seperti El Niño turut berkontribusi terhadap potensi kemarau yang lebih panjang dan kering. Dampaknya, setelah pancaroba berakhir, ketersediaan air berpotensi menurun signifikan di sejumlah wilayah.
Ancaman Cuaca Saat Pancaroba
Selama masa peralihan ini, terdapat sejumlah potensi bencana hidrometeorologi yang perlu diwaspadai masyarakat. Di antaranya hujan lebat berdurasi singkat yang kerap memicu genangan di jalan protokol, terutama di kawasan perkotaan.
Kemudian angin kencang hingga puting beliung yang bisa datang secara tiba-tiba.
Bangunan semi permanen menjadi yang paling rentan terdampak. Selain itu, petir juga lebih sering terjadi, sehingga masyarakat diimbau menghindari area terbuka atau berteduh di bawah pohon saat hujan turun.
Fenomena hujan es juga berpotensi muncul, meskipun tidak terjadi setiap hari. Namun, kejadian ini kerap dilaporkan saat pancaroba dan dapat merusak atap rumah maupun kendaraan.
Dampak Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Tak hanya berdampak pada lingkungan, pancaroba juga berpengaruh pada kondisi kesehatan masyarakat. Perubahan suhu yang drastis antara siang dan malam hari membuat tubuh lebih rentan terserang penyakit.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti flu dan batuk menjadi keluhan yang paling umum. Hal ini dipicu oleh meningkatnya debu akibat angin kencang serta daya tahan tubuh yang menurun.
Selain itu, risiko Demam Berdarah Dengue (DBD) juga meningkat akibat genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Masyarakat diimbau memastikan tidak ada genangan air lebih dari tiga hari di lingkungan sekitar.
Di sisi lain, dehidrasi juga kerap terjadi karena suhu siang hari yang cukup terik. Kondisi ini sering tidak disadari karena cuaca bisa berubah menjadi mendung secara tiba-tiba.
Langkah Antisipasi yang Bisa Dilakukan
Menghadapi pancaroba, masyarakat diminta lebih waspada dan proaktif melakukan langkah pencegahan. Beberapa upaya sederhana dapat dilakukan mulai dari lingkungan rumah.
Pertama, memeriksa kondisi atap dan memangkas dahan pohon yang terlalu rimbun atau dekat dengan bangunan untuk menghindari risiko saat angin kencang.
Kedua, memastikan saluran air tidak tersumbat agar tidak terjadi genangan saat hujan deras turun secara tiba-tiba.
Ketiga, selalu menyiapkan payung atau jas hujan saat beraktivitas di luar rumah sebagai langkah antisipasi perubahan cuaca mendadak.
Terakhir, masyarakat juga disarankan mulai menampung air hujan sebagai cadangan menghadapi musim kemarau panjang yang diprediksi akan terjadi setelah pancaroba.
Dengan memahami pola cuaca dan potensi risikonya, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi pancaroba 2026 yang diprediksi lebih panjang. [fyi/suf]






