Blitar (beritajatim.com) – Bupati Blitar, Rini Syarifah akhirnya angkat bicara terkait aksi unjuk rasa atau demo yang dilakukan oleh para wartawan. Mak Rini sapaan akrab Bupati Blitar menyampaikan bahwa selama ini dirinya juga ingin lebih dekat dengan para wartawan.
Maka dari itu bupati perempuan pertama di Blitar tersebut ingin mengajak para wartawan untuk ngopi bareng. Mak Rini berharap dengan adanya ngopi bareng ini bisa menciptakan alur komunikasi yang lebih baik dengan wartawan.
Rini Syarifah pun akan mulai mengevaluasi apa yang telah ia kerjakan dan lakukan, sehingga antara dirinya dan wartawan selama ini tidak terjalin komunikasi yang baik.
“Teman-teman, selama ini saya juga ingin selalu komunikasi ya. Monggo silahkan kalau mau ngopi-ngopi, ayo kita bareng-bareng. Saya juga sudah mulai evaluasi, apa yang sudah kita kerjakan,” Kata Rini Syarifah, Bupati Blitar, Jumat (08/09/23).
Respon yang diberikan oleh Bupati Blitar ini sebetulnya cukup baik. Namun sebenarnya tuntutan para wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) serta Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang ikut demo, tak lebihnya hanya berharap adanya perubahan sikap dan moralitas dari Bupati Blitar untuk lebih menghargai kebebasan pers.
Para wartawan yang ikut demo pada Jumat (25/08/23) lalu, sudah sepakat tidak ingin ada pertemuan atau hearing dengan Bupati Blitar. Hal itu dilakukan karena kegiatan aksi damai pada beberapa pekan lalu, memang hanya menuntut adanya perubahan sikap keterbukaan dari Bupati Blitar.
Namun tampaknya hal itu masih kurang dipahami oleh Bupati Blitar. Usai mengungkapkan pernyataan ‘ayo kita ngopi bareng’, Rini Syarifah masih menanggapi salah satu orang yang mengatasnamakan dirinya wartawan dan tidak ikut demo saat Jumat (25/08/23) lalu.
“Ya baik coba ya komunikasi, baik pak nanti kita komunikasikan,” jawab Bupati Blitar saat seorang yang mengaku wartawan itu meminta agar dianggarkan kegiatan hearing.
Para jurnalis yang ikut demo pada Jumat (25/08/23) sebetulnya tidak melarang Mak Rini menggelar hearing atau ngopi bareng dengan wartawan. Namun sejak awal, para wartawan dan jurnalis dari PWI, IJTI Blitar Raya serta Aji yang ikut demo cuma berharap sikap Mak Rini dan para ajudannya mau berubah untuk menghargai kebebasan pers, tidak lebih dari itu.
Pasalnya selama ini Mak Rini dan para tim khususnya kurang menghargai kebebasan pers. Mulai dari menghalang-halangi, hingga meminta agar tidak bertanya aneh-aneh di luar konteks acara. Hal-hal itulah yang dikritik oleh para wartawan dan jurnalis yang ikut demo pada beberapa pekan lalu.
Para wartawan berharap praktik-praktik penghalangan kebebasan pers itu bisa dihilangkan bukan justru ngobi bareng kemudian membahas yang lain. (owi/ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”Rini-Syarifah”]






