Blitar (beritajatim.com) – Wakil Menteri Pertanian, Harvick Hasnul Qolbi bersama Bupati Malang, Sanusi melakukan penanaman benih tebu jenis Pringo 1201 di Desa Gaprang Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Benih Tebu Pringo 1201 ini merupakan varietas baru, yang induknya berasal dari Kabupaten Malang serta dikembangkan oleh Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Surabaya.
Benih Pringo 1201 ini diklaim lebih produktif dan diharapkan bisa meningkatkan kualitas panen tebu petani. Sehingga target swasembada gula tahun 2024 yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat bisa terwujud.
“Presiden memberikan instruksi kepada kami bahwa harus memaksimalkan lahan-lahan produktif khususnya di Kabupaten Blitar untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tebu, sehingga swasembada gula di tahun-tahun kedepan ini bisa terwujud,” kata Wakil Menteri Pertanian, Harvick Hasnul Qolbi usai tanam benih tebu di Kabupaten Blitar, Selasa (21/11/2023).
Kegiatan ini pun menjadi penanda SK Pelepasan Benih Tebu Pringo 1201 kepada kelompok tani di Kabupaten Blitar. Pelepasan benih tebu Pringo 1201 ini merupakan langkah awal dari Kementerian Pertanian untuk melakukan peremajaan tanaman.
BACA JUGA:
Bersama Buruh dan Pengusaha, Bupati Blitar Bahas Besaran UMK Tahun 2024
Kementerian Pertanian berencana akan melakukan peremajaan tanaman tebu secara keseluruhan pada tahun 2024 mendatang. Langkah ini ditempuh karena produktivitas dan kualitas tebu yang saat ini ditanam oleh petani dirasa kurang maksimal.
Data yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian menyebut bahwa selama 8 tahun terakhir varietas tebu yang ditanam oleh petani masih sama. Hal itu pun tentu membuat produktivitas varietas tebu yang ditanam terus berkurang setiap tahunnya.
Dari situ Kementerian Pertanian berinisiatif untuk melakukan peremajaan jenis dan varietas benih tebu. Sehingga produktivitas tanaman tebu bisa maksimal.
“Jadi bukan hanya memanfaatkan lahannya saja, namun juga kualitas tebunya, sehingga akhirnya produk hilirnya bisa meningkat kualitasnya juga tentu produk-produk turunannya, jadi hilirisasi itu ke semua pemanfaatan yang ada,” tuturnya.
BACA JUGA:
Tak Mampu Beli Buku LKS, Siswa SMP di Blitar Justru Dibully Guru
Diketahui Indonesia saat ini masih mengalami defisit gula sebesar 800 ribu ton. Hal itu terjadi setelah produksi gula nasional hanya mencapai 2,6 juta ton sementara tingkat konsumsinya mencapai 3,4 juta ton.
Tentu diharapkan dengan adanya peremajaan benih dan varietas baru ini bisa meningkatkan produktivitas tebu. Sehingga Indonesia bisa segera mewujudkan swasembada gula pada beberapa tahun ke depan. [owi/beq]






