Gresik (beritajatim.com) – Proyek pembangunan smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) menerima kunjungan pejabat pemerintah. Kali ini Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, secara langsung mengamati proses pembangunan smelter terbesar di dunia yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur.
Orang nomor dua di Kementerian BUMN ini optimis bahwa PTFI akan dapat menyelesaikan proyek sesuai jadwal. Proyek ini diharapkan akan selesai pada Mei 2024.
“PTFI adalah salah satu perusahaan yang memberikan kontribusi besar kepada negara, baik dalam bentuk pajak maupun royalti. Kami ingin memastikan bahwa produksi Freeport, baik di hulu maupun di smelter, akan sesuai dengan harapan,” kata Kartika Wirjoatmodjo pada Kamis (9/11/2023).
Dia menambahkan bahwa saat ini PTFI sedang bekerja keras untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan fisik hingga akhir Desember 2023, kemudian akan memasuki tahap pra-pemeliharaan (pre-commissioning) dan pemeliharaan (commissioning) untuk memastikan bahwa seluruh fasilitas berfungsi dengan baik dan memulai operasionalnya pada akhir Mei 2024.
“Setelah beroperasi, smelter kedua ini akan mencapai kapasitas produksi penuh pada Desember 2024,” tambahnya.
BACA JUGA:
Progres Pembangunan Freeport Indonesia di JIIPE Gresik Capai 80 Persen
Sementara itu, Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, mengatakan bahwa salah satu tantangan utama dalam penyelesaian smelter adalah manajemen proyek yang tidak mudah.
“Proyek ini melibatkan banyak subkontraktor dan tenaga kerja yang jumlahnya besar, dan kami harus memadukannya agar semuanya berjalan lancar,” katanya.
Tony menjelaskan bahwa hingga kuartal III 2023, keberadaan smelter PTFI telah memberikan kontribusi signifikan pada nilai investasi untuk hilirisasi.
“Menurut data dari Kementerian Investasi/Badan Kohttps://www.pilar.id/indeks/ordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi untuk hilirisasi di sektor mineral mencapai Rp151,7 triliun, di mana tembaga memberikan kontribusi sebesar Rp47,6 triliun,” ujarnya.
BACA JUGA:
Freeport Gresik Sulap Limbah Jadi Bahan Bernilai Ekonomis
Dengan percepatan investasi ini, Indonesia diharapkan akan menjadi pemain penting dalam industri pertambangan dan hilirisasi.
“Ada banyak investasi yang akan masuk ke Indonesia untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Permintaan akan produk tambang akan semakin tinggi, dan ini merupakan peluang besar. Indonesia akan menjadi pemain yang diakui di dunia,” tambahnya.
PTFI telah menginvestasikan USD 2,9 miliar, atau sekitar Rp 43 triliun per Oktober 2023, dari total anggaran USD 3 miliar dalam pembangunan smelter kedua ini. Setelah beroperasi penuh, smelter ini akan memiliki kapasitas produksi sebesar 1,7 juta dry metric ton (dmt) untuk mengolah konsentrat tembaga dan menghasilkan katoda tembaga hingga 600 ribu ton per tahun. [dny/but]






