Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Zulfa Mustofa menyebutkan bahwa Muhammadiyah merupakan kakak kandung PBNU.
Hal ini sesuai dengan tahun kelahirannya, di mana Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912, sedangkan NU pada tahun 1926.
Selain itu, menurut Zulfa, kedua Ormas Islam ini memiliki komitmen yang kuat untuk merawat serta membangun Indonesia menjadi negara yang berkeadaban sejak didirikan.
”NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi kemasyarakatan, sosial, budaya dan keagamaan yang konsen dalam dakwah sehingga memiliki kesamaan dalam membangun Indonesia,” ujar Zulfa dalam keterangannya yang dikutip dari laman Muhammadiyah, Jumat (12/11).
Zulfa juga mengungkapkan bahwa pendiri Muhammadiyah dan NU yakni KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari memiliki sanad keilmuan yang sama.
[berita-terkait number=”5″ tag=”muhammadiyah”]
Dia melanjutkan, keduanya merupakan murid dari seorang ulama besar asal Nusantara yaitu Syaikh Nawawi Al Bantani. Hal ini tentu semakin memperkuat tali persaudaraan antar kedua Ormas Islam.
Sekretaris PP Muhammadiyah, Abdul Muti menanggapi pernyataan Zulfa terkait Muhammadiyah sebagai kakak kandung tersebut.
Menurut Muti, jika Zulfa menganggap Muhammadiyah sebagai kakak kandung, Maka NU merupakan adik bongsor. Sebab, kata Muti, meski Muhammadiyah lebih dulu lahir, populasi jamaah NU lebih banyak dari Muhammadiyah.
Salah satu indikasi dari hal itu adalah dengan banyaknya kader-kader NU yang kuliah di kampus Muhammadiyah.
“Bagi kami NU ini adik bongsor, karena pengikutnya lebih banyak,” ucapnya yang kemudian disambut dengan gemuruh tawa dan tepuk tangan dari penonton.
Muti menambahkan, Muhammadiyah dan NU mampu menjaga kerukunan, yaitu kesadaran dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Dia juga mengungkapkan beberapa hal yang diterapkan untuk menjaga kerukunan tersebut.
”Yang membuat Muhammadiyah dan NU semakin rukun. Pertama, kita memiliki kesadaran atas nilai yang sama. Kedua, bersedia mengadopsi nilai yang diperlukan agar kita dapat hidup berdampingan dengan damai, Nilai toleransi dan kebangsaan adalah bentuk adopsi yang kita lakukan,” pungkas Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini. (nap)






