Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir meresmikan Museum Muhammadiyah yang terletak di kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Senin (14/11).
“Kami atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, khusus pada Pak Muhadjir dalam hal ini mendapat tugas dari Presiden. Mudah-mudahan ini jadi amal jariyah dan terima kasih kepada UAD yang juga berkontribusi sehingga di sinilah kekhasan Muhammadiyah, jadi selalu ada kolaborasi di samping banyak hal yang kita membangun mandiri,” kata Haedar yang dikutip dari laman Muhammadiyah, Selasa (15/11).
Haedar mengatakan, Museum Muhammadiyah bukan sekadar tempat wisata dan edukasi biasa, melainkan juga sebagai tempat menjaga memori sejarah peran-peran kebangsaan, kemanusiaan, dan keumatan Muhammadiyah sekaligus proyeksi masa depan Muhammadiyah.
“Kami juga berharap pada seluruh keluarga besar Persyarikatan agar memanfaatkan museum ini sebagai kunci pembuka sejarah dan sekaligus juga maudhu’ah yakni proyeksi Muhammadiyah ke depan dari pelajaran sejarah yang kita dapatkan di museum ini. Museum tidak hanya bicara masa lampau, tapi juga proyeksi ke masa depan,” paparnya.
Untuk menyempurnakan konten museum, Haedar mengajak seluruh Pimpinan Persyarikatan di tingkat wilayah sampai ranting untuk menyumbangkan artefak sejarah yang berkaitan dengan generasi awal Muhammadiyah.
[berita-terkait number=”5″ tag=”muhammadiyah”]
Haedar juga menyarankan kepada UAD untuk membuat kajian etnografis titik hidup, jejak perjalanan dan pemikiran KH. Ahmad Dahlan. Termasuk melacak sejak kapan tradisi tajdid Kiai Ahmad Dahlan tereduksi menjadi tradisi amar makruf nahi munkar.
“Bagaimana mungkin seorang Kiai bersama Nyai Walidah menggagas lahirnya gerakan perempuan Islam pertama yang terorganisasi dan langsung didorong untuk ke ruang publik. Ini fenomena yan betul-betul disebut sebagai tajdidnya,” ungkap Haedar.
Menurut Haedar, belakangan ini, gagasan tajdid (humanisasi, liberasi, dan transendensi) memudar menjadi amar makruf nahi munkar yang tidak kuat di masa Kiai Dahlan hidup. Oleh karena itulah, kajian etnografi perlu ditampilkan Museum Muhammadiyah, termasuk menampilkan buku bacaan Kiai Dahlan seperti Tafsir Al Manar, Tafsir Juz Amma, dan Kitabut Tauhidnya Rashid Ridha, Kanzul Umam, karya-karya Farid Wajdi, hingga Ihya Ulumuddin karya Hujjatul Islam, Imam Ghazali.
Dari kajian etnografi inilah, kata Haedar, para peneliti yang jeli seperti James Peacock, Nakamura, Deliar Noer, Alfian menyimpulkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan reformisme dan modernisme Islam, bukan gerakan revivalisme Islam seperti gerakan pemurnian ala Wahabi. Hal ini membuat Haedar berharap agar kajian etnografi dapat dihadirkan oleh Museum Muhammadiyah.
“Ini penting agar generasi setelah kami bisa continuity dalam menyambung mata rantai pergerakan Muhammadiyah. Karena setiap gerakan itu ada distingtif, kekhasan. Inilah yang kemudian membentuk Kepribadian Muhammadiyah dan berbagai perangkat pemikiran Muhammadiyah yang luar biasa,” pungkasnya. (nap)






