Ringkasan Berita:
- Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyebut NU memiliki banyak kader berkualitas yang siap memimpin Jam’iyyah menjelang Muktamar ke-35 NU.
- Sejumlah nama tokoh telah muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, mulai dari kalangan ulama hingga pejabat pemerintahan.
- Gus Ipul menegaskan proses pemilihan pemimpin NU akan mengedepankan mekanisme musyawarah sesuai tradisi Jam’iyyah.
Jombang (beritajatim.com) – Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Menanggapi munculnya sejumlah nama yang disebut berpotensi maju dalam kontestasi kepemimpinan organisasi, Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa NU memiliki banyak kader potensial untuk memimpin Jam’iyyah.
Menurut Gus Ipul, keberadaan banyak kader berkualitas menunjukkan bahwa NU tidak mengalami kekurangan figur yang memiliki kapasitas untuk melanjutkan kepemimpinan organisasi. Hal itu disampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan usai memimpin Apel Pra Muktamar ke-35 NU di halaman GSG (Gedung Serba Guna) KH Hasbullah Said PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas, Jombang, Rabu (22/7/2026).
“Yang pasti, NU tidak kekurangan kader untuk memimpin organisasi. Stoknya sangat banyak dan semua memiliki kesempatan yang sama,” kata Gus Ipul.
Seperti diketahui, sejumlah nama telah muncul dalam bursa calon Ketum PBNU. Di antaranya KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin), Menteri Agama KH Nazaruddin Umar, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Zulfa Mustofa, serta KH Muhammad Irfan Yusuf (Gus Irfan).
Munculnya sejumlah tokoh tersebut menunjukkan dinamika kaderisasi kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama menjelang muktamar. Gus Ipul menilai seluruh kader memiliki peluang yang sama untuk berkontribusi dalam menentukan arah kepemimpinan Jam’iyyah ke depan.
Gus Ipul menjelaskan, terkait persyaratan teknis pencalonan Ketua Umum PBNU, seluruh keputusan akan diserahkan kepada para muktamirin yang mengikuti forum musyawarah di arena muktamar.
Sekjen PBNU tersebut juga mengingatkan bahwa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU telah mengatur mekanisme pengambilan keputusan dengan mengutamakan musyawarah untuk mufakat sebelum dilakukan pemungutan suara atau voting.
“Kita ingin jika ada perbedaan, diselesaikan dengan cara musyawarah khas Nahdlatul Ulama. Kita awali dan kedepankan tradisi musyawarah agar muktamar berjalan gembira, teduh, dan membawa berkah,” ujarnya.
Gus Ipul berharap seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif serta mencerminkan nilai-nilai yang selama ini menjadi karakter Jam’iyyah. Menurutnya, tradisi musyawarah menjadi bagian penting dalam menentukan arah perjalanan organisasi.
Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di PPBU Tambakberas, Jombang, pada 27 hingga 31 Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi Nahdlatul Ulama dalam menentukan kepemimpinan organisasi ke depan. Dengan banyaknya kader yang tersedia, NU membuka ruang bagi proses pemilihan pemimpin yang demokratis dan tetap mengedepankan kebersamaan. [suf]





