Surabaya (beritajatim.com)- Revitalisasi kawasan Surabaya Utara telah menyulap wajah Kota Lama menjadi destinasi wisata sejarah yang paling diperbincangkan saat ini. Bukan sekedar deretan gedung tua, kawasan ini kini menawarkan pengalaman “mesin waktu” melalui integrasi arsitektur kolonial yang terjaga dan ruang publik yang modern. Bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas, berikut adalah kurasi titik ikonik yang menjadi jantung dari pesona Kota Lama Surabaya:
Pos Bloc Surabaya( Gedung Kebon Rojo)
Titik ini merupakan primadona baru hasil transformasi bekas Gedung Kantor Pos peninggalan kolonial. Kini, Pos Bloc berdiri sebagai creative hub yang memadukan kemegahan arsitektur masa lalu dengan gaya hidup modern. Sambil mengagumi langit-langit gedung yang tinggi dan jendela-jendela besarnya yang ikonik, Anda wajib menikmati Kopi Lokal dari berbagai tenant kurasi yang ada di dalam. Menyeruput kopi di tengah bangunan bersejarah ini memberikan sensasi mewah namun tetap santai, menjadikannya tempat nongkrong paling “hidup” di kawasan ini.
Gedung Internatio dan Kawasan Jembatan Merah
Berdiri gagah dengan gaya Art Deco, Gedung Internatio adalah saksi bisu peristiwa 10 November yang heroik. Bersama Jembatan Merah yang legendaris, kawasan ini telah dilengkapi dengan trotoar yang lebar dan nyaman bagi pejalan kaki. Lokasi ini wajib dikunjungi untuk merasakan langsung atmosfer Surabaya sebagai “Kota Pahlawan” sambil menikmati pemandangan sungai Kalimas yang tenang di sore hari, memberikan perspektif sejarah yang kuat bagi siapa pun yang melintas di sana.
Gedung Cerutu di Jalan Karet
Salah satu bangunan paling unik di zona Pecinan adalah Gedung Cerutu, yang dinamakan demikian karena menara kecil di sudut gedung yang menyerupai bentuk cerutu. Anda harus menyusuri lorong-lorong estetik di sekitar Jalan Karet ini karena deretan gedung tuanya masih memiliki pintu kayu raksasa yang sangat autentik. Suasananya yang relatif lebih tenang dibandingkan titik lain menjadikannya lokasi favorit para fotografer untuk mengabadikan suasana “jadul” Surabaya yang sangat kental.
De Javasche Bank (Museum Bank Indonesia)
Bagi pecinta detail arsitektur interior, museum ini adalah pemberhentian wajib karena menyimpan kemewahan di balik dinding kokohnya. Pengunjung dapat melihat langsung brankas raksasa peninggalan masa kolonial serta detail ubin klasik dan jendela kaca patri yang masih terawat sempurna. Masuk ke gedung ini memberikan perspektif mendalam mengenai sejarah perbankan dan kemegahan arsitektur masa lalu yang sulit ditemukan di tempat lain.
Kawasan Kya-Kya Kembang Jepun
Memasuki sore hari, kawasan Pecinan di Kembang Jepun mulai menunjukkan pesonanya melalui gerbang naga raksasa dan deretan lampion merah yang menyala. Kya-Kya adalah pusat akulturasi budaya yang menawarkan pengalaman wisata malam yang meriah. Selain berburu foto di bawah cahaya lampion, pastikan Anda mencicipi Kuliner Khas Pecinan yang dijajakan di sepanjang jalan, yang secara drastis mengubah area bisnis yang sibuk menjadi pasar malam yang romantis dan penuh selera.
Taman Sejarah Surabaya
Terletak tepat di depan Gedung Internatio, taman ini telah direvitalisasi menjadi ruang terbuka hijau yang sangat informatif melalui berbagai instalasi sejarah. Taman ini menjadi titik peristirahatan favorit bagi wisatawan setelah lelah berkeliling. Saat lampu taman mulai menyala, suasana di sini berubah menjadi sangat magis, menjadikannya tempat terbaik untuk duduk santai sambil memperhatikan detail arsitektur megah yang mengelilingi taman dari segala arah.
Tips Kunjungan yang Maksimal
Pemerintah Kota Surabaya menyarankan wisatawan untuk berkunjung pada sore hari, sekitar pukul 15.30 WIB, guna mendapatkan pencahayaan terbaik (golden hour) untuk berfoto. Selain itu, fasilitas bus wisata Spark (Surabaya Sightseeing and City Tour) juga tersedia bagi pengunjung yang ingin berkeliling seluruh titik ikonik tersebut dengan lebih santai tanpa harus berjalan jauh.
Hadirnya wajah baru Kota Lama Surabaya ini membuktikan bahwa pelestarian cagar budaya dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan ruang publik yang modern dan edukatif. Inilah cara seru untuk berwisata sambil belajar menghargai jejak sejarah di setiap sudut kota.
Masih mau jauh-jauh keluar kota kalau ada Kota Lama yang bisa dijelajahi? Yuk bergegas dan ajak orang terkasih! [Devi Dwi Windah Sari]






