Jember (beritajatim.com) – Wakil Bupati Djoko Susanto menekankan pentingnya pengelolaan obyek wisata secara profesional di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dan bisa dikerjasamakan dengan pihak ketiga.
“Saya kemarin mengunjungi Pantai Cemara Seribu di Kecamatan Puger, untuk memastikan aktivitas masyarakat. Salah satu tempat wisata yang jadi favorit masyarakat Jember yang di sini,” kata Djoko, Senin (7/4/2025).
Ada beberapa catatan yang menurut Djoko perlu diperhatikan dalam pengelolaan tempat wisata. “Ada keluhan abrasi pantai dan lapak-lapak penjual yang menutupi pantai, sehingga tidak ada view yang bagus,” kata Djoko.
Banyaknya lapak penjual yang menutupi pantai, menurut Djoko, juga mempersulit pengamanan pengunjung. “Kalau ada anak yang bermain bisa lepas dari pengawasan. Jadi ini harus jadi perhatian kita semua,” katanya.
Djoko akan memerintahkan jajaran pemerintaj daerah untuk menata lokasi wisata seperti Pantai Cemara Seribu agar bisa dikembangkan lebih terkelola.
“Dinas Pariwisata akan menjadi leading sector bersama dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup untuk penghijauan tanaman mangrove mencegah abrasi,” katanya.
Namun Djoko mengingatkan pentingnya kajian yang matang terlebih dulu untuk mengembangkan lokasi wisata di Jember. “Kita biasakan begitu, supaya tepat guna dan tentunya secara anggaran lebih efisien. Tidak bisa APBD digunakan untuk coba-coba,” katanya.
Selain melihat potensi Pantai Cemara Seribu, Djoko juga ingin melihat potensi lain di kawasan Jember selatan. “Intinya saya ingin mendapatkan informasi soal potensi di daerah Puger, dan kreativitas masyarakat yang perlu kita dukung,” katanya.
“Kalau kita mau jujur, Jember ini kekurangan obyek wisata. Tempat bermain dan berlibur masyarakat kurang. Dari kacamata obyek wisata yang terkelola profesional, juga jauh dari profesional. Tapi orang Jember tidak punya pilihan atau pilihannya terlalu sedikit,” kata Djoko.
Djoko berharap obyek wisata di Jember bisa dikelola profesional. “Kalau memang (pemerintah) daerah tidak mampu, lebih baik kita kerjasamakan dengan swasta yang bisa mengelola profesional. Saya kira ini lebih konkret daripada dipaksa dikelola (pemerintah) daerah,” katanya.
Djoko mencontohkan pengelolaan wisata Rembangan oleh Pemkab Jember yang tak beranjak maju. “Mestinya sejak zaman Belanda di sana sudah jadi obyek wisata. Tapi ya begitu-begitu saja,” katanya.
Pengelolaan wisata ini, menurut Djoko, bukan hanya pekerjaan rumah Pemkab Jember. “Ini PR masyarakat Jember juga. Pemerintah daerah fungsinya mengorkestrasi potensi masyarakat. Bukan karena pemerintah, terus iso sak karepe dewe (bisa semaunya sendiri, red). Bupati dan wakil bupati dapat amanah dari rakyat. Jadi kewenangan yang kamu punyai, bukan kewenangan absolut,” katanya.
Djoko menyebut masyarakat Jember memiliki modal kebersamaan untuk menguatkan sektor pariwisata. “Saya bersyukur keguyuban ada di Jember. Ini modal kita membangun daerah. Kalau membangun daerah bertumpu pada APBD, tidak bakal sampai karena APBD kita juga tidak banyak,” katanya. [wir]







7 Komentar
Bukan kewenangan absolut aktanya wakil.bupati ….ya memang bukan kewenangan…tapi Amanah rakyat. gol nya Untuk kita . seluruh rakyat.
Wisata kuliner area kampus yang menyedihkan ,Jawa ,kalimantan ,selalu dikaji tiada henti ,hasilnya tak pernah terbukti .
Dengan konsep BOT dan profit shearing
Dgn bisnis plant dan support system dari Pemeruntah Daerah sbgai upaya menarik investor.
Akses jalan menuju tempat wisata..standart kebersihan di area wisata..toilet dan musholla yg bersih…ragam umkm kuliner maupun cenderamata…berikut PR utama yg hrs dilakukan
Pengelola pariwisata dijember kebanyakan bukan yg alhli pariwisata pengalaman dibidang pariwisata. Jadinya hanua wisata musiman atau tahunan.. cb sinergitas masyarakat dan pemerintah desa lebih dikontrol lgi pak. Di bande Alit terutama. Pengelola bukan bidang pariwisata akhirnya jauh dr kata profesional
Banyak tempat wisata alam yang ada di Jember belum tersentuh sarana dan prasarananya serta pengelolaan manajemennya yang sebenarnya bisa menaikkan pendapatan masyarakat khususnya daerah sekitarnya. Seperti di Gunung Kidul Yogyakarta yang sekarang menjadi destinasi tujuan wisata yang menjanjikan
Ngobrol wisata, cek watu ulo, papuma masalah tiket, parkir , dan pungli, masa nunggu viral, koordinasi antar dinas terkait, PERHUTANI, PLN, PU, DLHK, PARIWISATA, Kelompok2 kepemudaan yg peduli dengan kePariwisataan.