Gresik (beritajatim.com) — UPT SMPN 30 Gresik disiapkan untuk menjadi Sekolah Rakyat, sebuah program pendidikan khusus bagi warga Gresik yang tergolong dalam kelompok masyarakat berpendapatan terendah berdasarkan Data Kesejahteraan Ekonomi Nasional (DES).
Sebagai bagian dari persiapan, Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Republik Indonesia, Robben Rico, bersama Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, melakukan peninjauan langsung ke lokasi rencana Sekolah Rakyat di UPT SMPN 30.
Program ini akan mulai membuka Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada tahun ajaran 2025, dengan sistem pendidikan gratis.
“Ini merupakan amanat langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Sekolah Rakyat mengintegrasikan berbagai program unggulan seperti makan gratis, pendidikan gratis, dan penyediaan fasilitas terbaik,” ujar Robben Rico, Minggu (20/4/2025).
Robben menegaskan bahwa seluruh pembiayaan Sekolah Rakyat akan ditanggung negara melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hasil dari efisiensi anggaran.
Ia juga menekankan, sekolah ini hanya diperuntukkan bagi warga Gresik yang masuk kategori miskin ekstrem, yakni kelompok desil 1 dan 2 atau 20 persen masyarakat berpendapatan terendah.
“Tidak boleh ada siswa dari luar Gresik dan tidak boleh ada titipan. Proses penerimaan siswa maupun seleksi guru akan dilakukan secara ketat,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyatakan bahwa Sekolah Rakyat akan dijadikan proyek percontohan nasional dengan konsep boarding school (sekolah berasrama).
“Program ini bertujuan benar-benar untuk masyarakat yang membutuhkan. Integritas dan akuntabilitas dalam proses seleksi harus dijaga,” tegasnya.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Gresik, Ummi Khoiroh, menambahkan bahwa Gresik menjadi salah satu dari 86 kabupaten/kota yang telah mengikuti seleksi Data Entry Seleksi (DES) di Jakarta. Proposal dan dokumen Gresik juga telah dinyatakan lengkap oleh Kementerian PUPR.
“Saat ini kami tinggal menunggu proses hibah atau alih status aset untuk mendukung pembangunan sekolah,” jelasnya.
Dipilihnya UPT SMPN 30 Gresik sebagai embrio Sekolah Rakyat didasarkan pada kesiapan infrastruktur. Untuk tahap awal, sekolah ini akan menerima dua rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas masing-masing maksimal 25 siswa.
“Yang diterima benar-benar harus berasal dari masyarakat Gresik yang tergolong miskin ekstrem, dan ini menjadi syarat mutlak,” pungkas Ummi Khoiroh. [dny/but]






