Surabaya (beritajatim.com) – Singo Barong merupakan bagian tak terpisahkan dari seni tari Reog. Untuk bisa menjadi pembarong pun tidak mudah. Sebab, topeng barong yang harus diangkat memiliki berat yang cukup besar.
Kira-kira, topeng singo barong yang dipakai menari dengan cara digigit tersebut, memiliki berat sebesar 25 Kg dengan ukuran dua meter. Meski tidak mudah, Upik sudah bisa melakukannya sejak muda. Usianya saat ini masih 16 tahun dan duduk di bangku kelas 9 MTs N 3 Surabaya.
Siswa yang memiliki nama lengkap Taufik Qur Rohman ini memang mempunyai bakat menjadi pembarong. Ia bercerita mengikuti kesenian reog sejak tiga tahun yang lalu, saat usianya masih 12 tahun.
Saat itu Upik mulai bergabung dengan Sanggar Reyog Singo Joyo Taruna Sakti di daerah Wonoayu, Surabaya. “Awal masuk masih pegang bujang ganong. Pokoknya yang kecil-kecil dulu,” ujarnya.
Selama ini, ia memang selalu rutin mengikuti setiap ada jadwal latihan di Sanggar. Setidaknya seminggu sekali, pada hari Rabu atau Jum’at malam, sekitar pukul 19.00 WIB hingga selesai. Bahkan sering kali dirinya baru pulang tengah malam.
Upik pun mengaku tidak dimarahi orang tua ketika harus pulang malam. Karena kedua orangtuanya juga tidak melarang bahkan sangat mendukung kegiatan positifnya itu.
Setelah dua tahun berjalan, barulah dirinya memberanikan diri untuk belajar menari menggunakan dadak merak. Meski sangat berat baginya, tapi tekad untuk dapat terus belajar sangat kuat. Hingga akhirnya Upik berhasil melakukannya.
Menurut laki-laki yang tinggal di Medokan Utara LIJ tersebut, untuk dapat mengangkat dadak merak tidak sekadar harus kuat digigitan. Namun juga tangan harus kuat, terlebih pada bagian leher yang menjadi tumpuan.
Saat ditanya sudah pernah berapa kali tampil, ia mengaku lupa karena sudah lumayan banyak. Biasanya ia tampil ketika ada acara 17 Agustus-an, Pernikahan, bahkan juga Ulangtahun.
Selain job dari luar, juga ada acara tahunan yang rutin dilakukan, yakni Hari Jadi Sanggar. Setiap tanggal 26 September, ia dan teman-temannya biasa tampil di persimpangan jalan dekat sanggar tersebut.
Menurut Upik, apa yang dilakukannya itu sangat menyenangkan. Selain menjadi hobi juga setidaknya menghasilkan. “Selama ini hasil dari job-job tersebut saya gunakan untuk jajan saya sendiri dan sisanya ditabung,” ujar laki-laki kelahiran Surabaya, 08 Mei 2005 ini.
Selain pawai menari Reog, sebenarnya ia setiap Minggu sore juga aktif mengikuti latihan jaranan di daerah Semampir. Kecintaanya pada kesenian tarian tradisional tersebut menurutnya menurun justru dari sang kakek.
“Karena cinta banget dengan tarian-tarian tradisional ini, justru itu harus terus belajar biar bisa berkembang. Karena harapan saya, ingin bisa lebih sukses dari hari ini,” harapnya. [fyi/tur]






