Kemenangan Persebaya atas Madura United (MU) 2-1 di di Gelora Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Senin (2/12/2024), pada pekan ke-12 Liga 1 Musim 2024-25 meninggalkan sekian catatan.
Pertama, dua gol yang dicetak Mohammed Rashid pada menit 44 dan 84 yang dibalas pada menit 69 oleh Maxuel di hadapan 3.334 penonton menunjukkan performa mental Persebaya.
Dari 12 pekan berjalan, Persebaya berada di posisi puncak pada lima pekan di antaranya. Ini capaian yang harus disyukuri. Namun sektor depan Persebaya masih belum menunjukkan performa sebagai kandidar kuat juara liga musim ini.
Jumlah gol yang diproduksi Persebaya (13) sama persis dengan jumlah gol yang diceploskan Madura United yang sekarang berada di zona degradasi. Hanya empat pemain yang menjadi sumber gol Persebaya, dan ironisnya penyumbang terbanyak adalah seorang gelandang bertahan Mohammed Rashid.
Rashid mencetak lima gol. Disusul tiga gol oleh Bruno Moreira, tiga gol oleh Flavio, dan dua gol oleh Malik, Risaldi. Keberanian Rashid mengeksekusi bola dari jarak jauh menjadi kunci keunggulan.
Akurasi operan Persebaya masih jauh dari sempurna, hanya 72 persen yang berhasil. Buruknya akurasi ini membuat skema serangan yang diinginkan Paul Munster dibangun dari bawah seringkali tak berhasil.
Pemain seringkali terburu-buru saat berada di sepertiga akhir lapangan. Beberapa gol Persebaya tercipta justru karena efek ‘pin ball’ dan bukan karena skema serangan dari kaki ke kaki yang tersusun rapi.
Tak ada masalah Rashid menjadi senjata rahasia Persebaya. Tugas pemain lain seperti Flavio dan Bruno adalah menarik perhatian pemain lawan dan membuka ruang bagi pemain asal Palestina untuk melepaskan tembakan.
Kendati gagal membangun mesin serang yang produktif, Munster berhasil membangun sebuah tim yang sulit dikalahkan. Hanya kebobolan tujuh gol selama 12 pekan menunjukkan benteng pertahanan Persebaya tak mudah dijebol. Hanya PSM Makassar yang memiliki tembok serapat itu, dan saat ini berada di posisi empat klasemen sementara terpaut enam angka dengan Persebaya.
Catatan lainnya, derbi Suramadu melawan Madura United benar-benar layak disebut friendly derby. Ketegangan dan benturan antarpemain terjadi cukup keras di dalam lapangan. Wasit Gedion Dapaherang mengeluarkan empat kartu kuning untuk tuan rumah dan empat kartu kuning untuk Persebaya, termasuk untuk Paul Munster.
Bahkan setelah wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir, ketegangan masih terjadi. Pemain Madura United memprotes dugaan pelanggaran di kotak penalti Persebaya yang tidak ditinjau ulang oleh VAR.
Beruntung, Persebaya tidak menghadapi MU di Inggris alias Manchester United. Setan Merah sempat bikin heboh publik sepak bola Inggris pada musim 2020-21, katena mendapat hadiah penalti dari wasit Chris Kavanagh setelah peluit akhir berbunyi. Bruno Fernandes berhasil mencetak gol dan membuat MU menang 3-2 atas Brighton Hove and Albion.
Kavanagh memberikan hadiah penalti dengan alasan sederhana: karena pelanggaran terjadi sebelum peluit panjang berbunyi. Aturan International Football Association Board (IFAB) menyebutkan, “If at the end of the half, the referee leaves the field of play to go to the referee review area (RRA) or to instruct the players to return to the field of play, this does not prevent a decision being changed for an incident which occurred before the end of the half.”
Kita bisa membayangkan pemain-pemain MU di Bangkalan ingin mendapatkan perlakuan yang sama dengan pemain-pemain MU di Inggris. Bukankah aturan sepak bola berlaku global? Namun jika kemudian Gedion Dapaherang memutuskan tidak memberikan penalti untuk MU, bisa jadi memang tidak ada pelanggaran di kotak penalti Persebaya.
Kontroversi dalam sepak bola memang menyenangkan. Tidak ada kebenaran mutlak. Hanya angka di papan skor yang menjadi pembeda. Dan Persebaya menunjukkan dominasinya atas sang tetangga Senin malam itu. [wir]






