Malang (beritajatim.com) – Awal Agustus 2023 ini Universitas Negeri Malang (UM) kembali mengukuhkan 5 guru besar (gubes) baru. Kelima guru besar tersebut dari berbagai bidang, yaitu bidang pendidikan bahasa Indonesia, pendidikan biologi, pendidikan kewirausahaan, pendidikan vokasi, serta bidang rekayasa pengetahuan dan sains data.
Kelima guru besar yang dikukuhkan yaitu, Prof. Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd., Prof. Dr. Murni Sapta Sari, M.Si., Prof. Dr. Agung Winarno, M.M., Prof. Dr. Tuwoso. M.P.., Prof. Aji Prasetya Wibawa, S.T., M.MT., Ph.D. Mereka dikukuhkan di Aula GKB A19 Lantai 9 UM pada Kamis (3/8/2023).
Prof Yuni Pratiwi menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Peserta Didik Tumbuh Kembang ke Alam Dewasa sebagai Pembela Bangsa Melalui Pembelajaran Sastra,’. Menurutnya pembelajaran bahasa Indonesia mencakup pembelajaran berbahasa dan bersastra. Salah satu isu penting dalam pembelajaran sastra yaitu, dalam karya sastra terkandung muatan semangat kebangsaan.
“Saya mengambil fokus pada pendidikan sastra, yang salah satunya mengandung tema atau kebangsaan. Dalam belajar sastra, peserta didik menggunakan otak secara berimbang antara belahan kiri dan kanan,” ungkap Prof Yuni kepada media, Rabu (2/8/2023).
Menurutnya, peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh sastra dalam berbagai situasi, dapat menjadi bahan renungan akar falsafah kehidupan kebangsaan yang amat dalam. Peserta didik memetik butir kebajikan dan nilai kearifan hidup untuk pengenalan fitrah kemanusiaan dalam skala horizontal dan vertikal.
“Hal ini mengantarkan peserta didik tumbuh kembang ke alam dewasa sebagai pembela bangsa dan tanah airnya,” lanjut guru besar bidang pendidikan bahasa Indonesia, fakultas sastra UM ini.
BACA JUGA:
Universitas Negeri Malang Miliki 124 Guru Besar
Prof. Murni Sapta Sari menjelaskan tentang literasi botani dalam hal konsep dan proses pembelajaran biologi dalam mempersiapkan calon guru untuk pembangunan berkelanjutan (SDGs). Hasil studi menunjukkan bahwa sebagian besar guru biologi tidak dapat merancang pembelajaran bidang botani dengan baik, karena diberikan tidak mengikuti konsep dan proses yang tepat.
Implikasinya menyebabkan bidang botani tidak diminati siswa, oleh karena itu literasi botani di kalangan pendidik biologi perlu diberdayakan dalam pembelajaran. “Kita memiliki kekayaan botani yang sangat luas, itu yang bisa dijadikan guru biologi sebagai bahan pembelajaran botani,” ujar guru besar bidang biologi yang fokus pada botani ini.
Menurutnya, pembelajaran biologi dilakukan dengan lebih menekankan pada proses contohnya melalui kegiatan eksplorasi tumbuhan di lingkungan sekitar sehingga mahasiswa aktif selama pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran biologi sangat potensial dan strategis mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
“Eksplorasi mendukung konservasi keanekaragaman tumbuhan mutlak diperlukan demi keberlangsungan hidup manusia. Ini juga menjadi salah satu tujuan SDG’s untuk mengatasi krisis lingkungan. Marilah kita dukung dengan merubah pola pikir kita dalam pembelajaran pada peserta didik kita untuk Indonesia menjadi lebih sejahtera,” ungkap dosen FMIPA UM ini.
Sementara itu, Prof Agung Winarno menyampaikan pidato berjudul ‘Memperkuat Ekonomi Pedesaan Melalui Ruralpreneurship: Pendekatan Baru dalam Pendidikan Kewirausahaan,’. Menurutnya pembangunan harus desa diawali dengan jiwa entrepreneur.
“Sudah banyak pihak yang care dengan desa. Dari hasil riset menunjukkan ada kesalahan di dalam penerapan model kewirausahaan. Kewirausahaan harus dimulai dengan membangun karakter dulu, jiwa dibangun, jika gagal membangun jiwa enterpreneur maka yang lain akan gagal,” ungkapnya guru besar bidang pendidikan kewirausaah ini.
Ruralpreneurship adalah inisiatif yang bertumpu pada pengembangan kewirausahaan di pedesaan. Inisiatif ini menawarkan solusi berbeda yang menjanjikan nilai tambah bagi masyarakat desa.
“Kami berkomitmen untuk mendukung dan mengimplementasikan pendekatan innovative ruralpreneurial education ini untuk memperkuat kemandirian ekonomi pedesaan dan membangun masa depan yang lebih cerah untuk masyarakat pedesaan di Indonesia,” jelas dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM ini.
BACA JUGA:
Tim Barqha Universitas Negeri Malang Juara 3 LIDM
Prof. Dr. Tuwoso. M.P.., menyoroti soal pendidikan vokasi abad 21. Pendidikan vokasi di Indonesia mengalami kesenjangan curam dengan dunia industri. Bahkan bisa dikatakan lembaga pendidikan vokasi tertinggal karena tidak memiliki kemajuan teknologi di industri.
“Banyak lulusan skill khusus (special skills) yang diperlukan oleh industri. Hal itu merupakan great challenge untuk dunia pendidikan vokasi di era industri 4.0. Era revolusi industri 4.0 membawa konsekuensi yang cukup serius untuk dunia pendidikan vokasi,” ujar guru besar bidang pendidikan vokasi fakultas teknik UM ini.
Adapun Prof. Aji Prasetya Wibawa menyampaikan pidato berjudul ‘Weruh Sakdurunge Winarah: Wujud Integrasi Data, Informasi, Pengetahuan, dan Kebijaksanaan,’ . Prof Aji menjadi guru besar pertama bidang rekayasa pengetahuan dan data sains di Indonesia sekaligus di UM.
BACA JUGA:
Universitas Negeri Malang Hadirkan Peneliti Belanda Tom Hoogervorst
Menurutnya ungkapan weruh sadurunge winarah adalah sains datanya masyarakat Jawa. Weruh sadurunge winarah merupakan epistem ilmu titen atau niteni, yang berasal dari memahami data dan informasi yang pernah ada, untuk membuat generalisasi kesimpulan yang tepat.
“Data yang secara baik menghasilkan pengetahuan efektif melalui analisis dan interpretasi akurat. Efisiensinya masih bisa ditingkatkan dengan pembersihan data, integrasi, dan aksesibilitas. Data science (DS) dan pengetahuan saling terkait dalam siklus proses penggalian kebijaksanaan,” ungkap guru besar dari fakultas teknik UM ini. [dan/but]






