Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) resmi akan mengukuhkan empat guru besar dari berbagai disiplin ilmu pada Kamis (5/12/2024). Prosesi pengukuhan berlangsung di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) A19 lantai 9 dan menjadi momen bersejarah bagi universitas ini.
Keempat guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Sri Untari, M.Si., Prof. Ani Wilujeng Suryani, Ph.D., Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn., dan Prof. Dr. Roekhan, M.Pd.
Prof Sri Untari, dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kebijakan Publik. Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dr. Sri Untari membahas konsep smart government sebagai bagian dari smart city.
Ia menyoroti pentingnya kolaborasi pentahelix yang melibatkan lima aktor utama: pemerintah, akademisi, bisnis, media, dan masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi ini harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam perencanaan dan evaluasi kebijakan publik. Namun, ia mengakui masih ada kendala, terutama dalam membangun keselarasan antar aktor.
“Harus ada perjanjian dan komitmen tertulis antara pemerintah dan universitas untuk memastikan pentahelix berjalan optimal,” tegasnya, saat jumpa media, Rabu (4/12/2024). Ia juga menyampaikan kesiapan UM untuk menjadi universitas kelas dunia.
Prof Ani Wilujeng Suryani dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Akuntansi Keuangan dan Keperilakuan Prof. Ani Wilujeng Suryani mengangkat topik ‘Akuntansi di Luar Angka-Angka’ dalam pidato pengukuhannya.
Ia menjelaskan bahwa akuntansi tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga melibatkan aspek perilaku. Penelitiannya sejak 2017 menyoroti persepsi masyarakat terhadap profesi akuntan dan minat mahasiswa untuk berkarir di bidang ini.
Salah satu temuan pentingnya adalah bagaimana laporan naratif dan keramahan perusahaan di media sosial dapat memengaruhi nilai perusahaan. “Akuntansi adalah cerminan perilaku, baik dalam pengambilan keputusan manajerial maupun interaksi dengan masyarakat,” jelasnya.
Kemudian, Prof Robby Hidajat menjadi Guru Besar Bidang Kajian Seni Tari. Prof. Robby Hidajat adalah guru besar bidang tari pertama yang dimiliki oleh UM.
Ia menyampaikan pidato berjudul ‘Membaca Struktur-Simbolik Seni Tari: Studi Bentuk, Relasi, dan Imajinasi dalam Memahami Makna Tari’. Ia menjelaskan pentingnya memahami simbolik seni tari melalui tiga pendekatan, mengenali bentuk, memahami relasi, dan membangun imajinasi konotatif.
“Seni tari tidak hanya dinikmati secara visual, tetapi juga memiliki makna mendalam yang perlu dipahami melalui aspek keilmuan, budaya, dan pengalaman artistik,” ungkapnya. Kecintaannya pada seni tari tumbuh sejak kecil berkat pengaruh orang tuanya.
Kemudian Prof Roekhan sebagai Guru Besar Bidang Kajian Teks dan Pembelajarannya. Dalam pidatonya yang berjudul ‘Pengembangan Literasi Informasi Bohong untuk Masyarakat’, Prof. Dr. Roekhan menyoroti tantangan besar akibat maraknya hoaks.
Ia menyebut fenomena ini sebagai bentuk kekerasan simbolik yang berdampak pada apatisme masyarakat, terutama dalam partisipasi politik seperti pilkada. Sebagai solusi, ia mendorong pemberdayaan masyarakat melalui jalur formal dan informal.
“Media harus menjadi pelaku utama dalam edukasi literasi informasi. Selain itu, pemerintah dan institusi pendidikan perlu membangun ketahanan informasi secara sistematis,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan masyarakat yang lebih kritis dan peka terhadap informasi.
Pengukuhan empat guru besar ini menjadi bukti komitmen Universitas Negeri Malang dalam menciptakan pemimpin akademik yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan berbagai bidang keahlian yang diusung, UM terus berupaya menjadi universitas kelas dunia yang berkontribusi pada pembangunan bangsa. [dan/suf]






