Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Universitas Airlangga (Unair) membongkar biang kerok banjir rob di kawasan Kalianak, Surabaya. Wilayah itu kembali terendam pada pertengahan Juli lalu.
Dosen Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana (SPs) Unair, Dr Hijrah Saputra menjelaskan pangkal peristiwanya. Ia menyebut Kalianak berada di zona merah muara yang sangat rawan.
“Banjir rob yang terjadi di Kalianak merupakan fenomena alamiah siklus pasang surut air laut. Pasang surut ini dipengaruhi oleh gravitasi bulan dan matahari,” ujar Hijrah, Rabu (22/7/2026).
Selain siklus alam, ada pemicu lain yang lebih memprihatinkan. Perubahan iklim membuat tinggi muka air laut terus bertambah antara 0,3 hingga 0,6 sentimeter setiap tahun.
Kondisi itu diperburuk oleh penurunan muka tanah akibat eksploitasi air bawah tanah secara berlebihan. Perubahan tata guna lahan di pesisir Kalianak juga memangkas kekuatan daerah resapan.
Sistem drainase di kawasan tersebut ikut mengalami pendangkalan parah. Material padat seperti pasir, lumpur, hingga tumpukan sampah membuat kapasitas saluran makin sempit.
“Sekarang banjir rob dapat terjadi lima hingga enam kali dengan ketinggian 30 sampai 40 sentimeter yang berperan sebagai ancaman serius,” tutur Hijrah.
Menyikapi rentetan kejadian ini, langkah mitigasi struktural dan non-struktural harus segera berjalan. Pengerukan sedimen minimal dua kali setahun serta pelebaran saluran berkonsep ekodrainase menjadi pilihan terukur.
Pemerintah juga perlu membangun kolam retensi dan pintu air sistem otomatis. Dari sisi regulasi, sistem peringatan dini lewat sirine cuaca ekstrem wajib disiagakan di sekitar permukiman.
“Meskipun bersifat sederhana, sosialisasi memiliki peran penting untuk menambah wawasan masyarakat. Bila tidak dipatuhi, pemerintah dapat memberikan denda bagi pelanggar,” tegas Hijrah.
Penyelesaian genangan di Kalianak butuh penerapan teknologi yang terintegrasi. Penggunaan Internet of Things (IoT) pada sensor pompa air bisa menjadi jawaban atas padatnya aktivitas permukiman.
Sensor canggih ini akan membaca jadwal pasang surut secara otomatis. Saat air laut mulai naik, pintu air menutup sendiri dan pompa langsung menyala menguras genangan.
“Menurut saya yang paling butuh dilakukan saat ini adalah melakukan relokasi terencana untuk warga di bantaran saluran yang termasuk di zona bahaya tinggi,” ungkap Hijrah.
Meski rencana relokasi ini sangat sensitif, keputusan itu tetap harus dipertimbangkan secara matang. Untuk rencana jangka panjang, pembangunan tanggul beton ramah lingkungan bisa menjadi tameng pertahanan. [ipl/kun]






