Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) resmi didapuk sebagai lokasi dimulainya sejarah baru bagi warga Nahdliyin. Kampus kebanggaan Nahdlatul Ulama (NU) ini menjadi tuan rumah Kick Off Peringatan Satu Abad NU yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Rabu (7/1/2026).
Mengusung tema besar “Memperkokoh Jam’iyyah, Tradisi Kontribusi, dan Mengembangkan Peradaban”, kegiatan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian panjang peringatan satu abad NU di Jawa Timur. Penunjukan Unisma dinilai sarat makna simbolik, mencerminkan komitmen perguruan tinggi NU dalam menjaga tradisi keilmuan sekaligus menatap masa depan peradaban global.
Rektor Unisma, Prof. Drs. Junaidi Mistar, PhD, menegaskan bahwa peran Unisma dalam perhelatan ini tidak sekadar sebagai penyedia tempat, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk membesarkan marwah NU.
“Sejak awal PWNU Jawa Timur mengajukan permohonan, Unisma langsung menyatakan siap secara total. Mulai dari logistik, sumber daya manusia, hingga dukungan kelembagaan. Kami siap bukan hanya secara fisik, tapi dengan seluruh potensi yang kami miliki untuk NU,” ujar Prof. Junaidi.
Ia menambahkan, Unisma memosisikan diri sebagai shohibul bait atau tuan rumah yang melayani dengan sepenuh hati. Komitmen tersebut, kata dia, sejalan dengan konsistensi Unisma dalam mendukung program NU secara berjenjang, mulai dari tingkat ranting, majelis wakil cabang, pengurus cabang, wilayah, hingga pusat.
Dalam momentum tersebut, Prof. Junaidi juga memaparkan peta jalan pengembangan Unisma yang terangkum dalam dua slogan strategis, yakni “Unisma dari NU untuk Indonesia dan Peradaban Dunia” serta “Unisma Terbang Melesat Menuju World Class University”. Narasi tersebut menjadi kompas bagi Unisma untuk memperkuat akar ke-NU-an sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat internasional.
Prestasi Unisma pun terus mencatatkan capaian signifikan. Unisma tercatat sebagai perguruan tinggi NU pertama yang berhasil meraih akreditasi institusi dengan peringkat Unggul.
“Saat ini Unisma memiliki 38 program studi (Prodi), yang terdiri dari 25 sarjana, 2 profesi, 10 magister, dan 1 doktoral. Lebih dari 50 persen Prodi telah terakreditasi Unggul, bahkan tujuh di antaranya telah terakreditasi internasional oleh lembaga bereputasi dari Jerman dan Jepang,” paparnya.

Di tingkat global, berdasarkan QS Asia University Rankings 2026, Unisma menempati peringkat 173 di kawasan Asia Tenggara dan masuk dalam jajaran 1.000 kampus terbaik di Asia.
Sebagai bentuk apresiasi konkret bagi warga NU pada momentum satu abad ini, Unisma juga meluncurkan kebijakan afirmatif bagi calon mahasiswa baru. Prof. Junaidi mengumumkan pemberian potongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) semester pertama sebesar Rp1.926.000 bagi mahasiswa baru non-Fakultas Kedokteran yang mendaftar pada periode 7–31 Januari 2026. Angka tersebut diambil secara filosofis dari tahun kelahiran NU, yakni 1926.
Selain itu, pada tahun 2026 Unisma juga mengalokasikan 100 kuota Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah khusus bagi warga Nahdliyin yang memenuhi syarat, dengan proses seleksi yang melibatkan tim dari NU.
Sementara itu, Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menekankan bahwa peringatan satu abad NU harus dimaknai sebagai ruang refleksi dan pembenahan internal organisasi.
“NU harus terus hadir bagi semua lapisan, kaya maupun miskin, pusat hingga pinggiran, tanpa kehilangan tradisi keilmuan dan khidmah sosialnya. Ini adalah rumah besar umat Islam yang inklusif,” tutur Gus Kikin.
Apresiasi juga disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. Emil menilai NU memiliki seni tersendiri dalam merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga seluruh golongan merasa terwadahi. Ia mencontohkan kontribusi sosial NU Jawa Timur yang berhasil menghimpun dana sekitar Rp389 miliar untuk korban bencana di Sumatra sebagai bukti nyata kehadiran NU hingga ke pelosok.
Kegiatan Kick Off Peringatan Satu Abad NU Jawa Timur ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh jajaran PWNU Jawa Timur bersama Forkopimda dan para kepala daerah, sebagai simbol kesiapan NU menyongsong abad kedua dengan tradisi yang kokoh dan visi peradaban yang melampaui zaman. [dan/beq]






