Malang (beritajatim.com) – UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) bakal membagikan daging kurban dengan cara yang unik dan ramah lingkungan. Pasalnya, kampus putih jas merah ini menggunakan besek (wadah dari anyaman bambu), daun talas, dan daun singkong untuk membungkus daging kurban.
Ketua Panitia Kurban UMM Abdus Salam menjelaskan bahwa penggunaan wadah non-plastik menjadi upaya mengkampanyekan Green Qurban. UMM berkomitmen terus menjaga kelestarian lingkungan.
“Ini menjadi bentuk komitmen kita dan dakwah kita agar diikuti oleh banyak orang. UMM melakukan ini sejak beberapa tahun belakangan dan alhamdulillah disambut baik. Ini tradisi yang perlu terus dijalankan,” ungkap Abdus Salam, Minggu (16/6/2024).
Green qurban, kata Salam, juga sejalan dengan berbagai istilah di Muhammadiyah seperti kader hijau Muhammadiyah dan juga ayat hijau. Keduanya sebagai upaya Muhammadiyah untuk turut menjaga bumi.
Di samping itu, kurban dengan cara ini juga sesuai dengan SDG’s yang tengah digalakkan oleh Kampus Putih. Salam berharap green qurban UMM bisa menjadi inspirasi masyarakat untuk mengubah kebiasaan penggunaan plastik dalam proses distribusi daging kurban.
“Semoga ini dapat menjadi dasar pemerintah dalam menyediakan perda atau himbauan pelaksanaan green kurban. Dengan begitu, warga semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan bumi,” ujar Salam.
Diinformasikan bahwa UMM memperoleh sejumlah hewan kurban. Sejauh ini ada 19 kambing, lima domba, dan 12 sapi. Jumlah ini dapat bertambah karena masih ada beberapa hari penyembelihan. Beberapa di antaranya dikirim ke berbagai daerah, termasuk Sumbawa.
Terkait penggunaan daun singkong sebagai bungkus daging, tim kesehatan hewan kurban UMM Ali Mahmud menjelaskan alasannya. Menurutnya, daung singkong memiliki senyawa aktif, yakni flavonoid dan fenolik.
Keduanya merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tanaman dan memiliki banyak fungsi. Salah satunya sebagai antioksidan yang mampu memproses oksidasi daging. Dengan begitu, daging tetap segar dalam proses distribusi ke masyarakat.
“Jadi penggunaan daun sebagai bungkus daging tidak hanya untuk menggantikan plastik dan menjaga lingkungan. Tapi juga memberi manfaat untuk daging agar tetap segar,” katanya.
UMM senantiasa memastikan kesehatan sapi dan kambing yang akan disembelih. Menurutnya, semua hewan kurban UMM telah diperiksa dengan teliti untuk memastikan hewan dan daging kurban aman dikonsumsi.
Saat pembelian, ia membawa tim untuk pemeriksaan lebih lanjut. Melihat riwayat peternak, memeriksa usia hewan, dan membeli di peternak terpercaya.
Adapun untuk melihat sehat tidaknya hewan kurban, Ali dan tim sudah mengecek beberapa hal seperti tidak adanya luka, kuku yang tidak pucat, air liur berlebihan, mata tidak sayu, hingga bulu tidak berdiri
“Hewan kurban yang sehat juga bisa dilihat dari pori-pori hidung yang mengeluarkan sedikit cairan. Kami juga mengecek apakah paru-parunya sehat dengan melihat ada tidaknya suara ngorok pada hewan terkait,” tambahnya.
Adapula surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang menjadi salah satu aspek dalam melihat keadaan hewan kurban, baik itu sapi maupun kambing.
Ali mengatakan bahwa sapi dan kambing ini sudah dinyatakan bebas dari cacing hati, antraks, dan bahkan virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Saat dipotong dan dilihat, semua jeroan, hati, hingga paru juga bersih dan sehat. “Jadi memang harus bebas dari unsur bakterial dan parasit,” tutupnya. [dan/suf]






