Jakarta (beritajatim.com) – Ketegangan geopolitik global kembali menjadi ulasan pengamat pasar modal dan bursa saham di awal 2026, mulai dari kebijakan Amerika Serikat di Venezuela, konflik terkait Greenland, hingga gelombang demonstrasi di Iran. Kondisi ini dinilai membawa implikasi signifikan terhadap stabilitas ekonomi dunia dan pasar keuangan global.
Portfolio Manager Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Laras Febriany, menilai dinamika geopolitik saat ini mencerminkan perubahan besar dalam lanskap global.
Menurutnya, arah kebijakan Amerika Serikat yang mengedepankan kepentingan nasional serta meningkatnya peran kekuatan baru seperti China dan Rusia membuat risiko friksi geopolitik semakin rentan terjadi.
“Kami melihat lanskap geopolitik dunia sedang mengalami masa perubahan seiring dengan arah kebijakan AS yang mengedepankan kepentingan nasional, America First, dan meningkatnya peranan kekuatan baru di dunia seperti China dan Rusia,” ujar Laras.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut berpotensi memicu volatilitas jangka pendek di pasar keuangan dan menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi global dalam jangka menengah hingga panjang, terutama akibat menguatnya kebijakan proteksionisme yang menghambat perdagangan global.
Namun demikian, dari perspektif jangka pendek, Laras melihat adanya sisi positif dari ketegangan geopolitik ini.
“Menariknya, kondisi geopolitik justru mendorong sinkronisasi kebijakan, di mana banyak negara secara bersamaan mengimplementasikan pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik,” jelasnya.
Geopolitik Jadi New Normal bagi Pasar Keuangan
Ketidakpastian geopolitik, lanjut Laras, telah menjadi bagian dari new normal yang harus diperhitungkan investor dalam pengambilan keputusan investasi.
“Kondisi ketegangan geopolitik berisiko meningkatkan volatilitas pasar sewaktu-waktu tanpa dapat diprediksi. Oleh karena itu, risiko geopolitik harus menjadi faktor penting dalam proses investasi,” katanya.
Ia mencatat, investor global kini cenderung memperkuat diversifikasi portofolio, baik dari sisi mata uang, kelas aset, kawasan, hingga aset non-finansial seperti emas. Di sisi lain, kondisi ini membuka peluang aliran dana asing ke negara berkembang dengan ekonomi berorientasi domestik dan risiko geopolitik relatif lebih rendah.

Arah Suku Bunga The Fed Masih Berpotensi Turun
Terkait kebijakan moneter global, Laras menyebut The Fed diperkirakan akan bersikap lebih data-dependent di 2026 setelah menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang 2025.
“Median proyeksi The Fed di Desember mengindikasikan hanya satu kali penurunan suku bunga tahun ini. Namun kami melihat masih ada potensi Fed Funds Rate turun lebih dari satu kali,” ujarnya.
Ia menambahkan, berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada Mei 2026 membuka peluang perubahan arah kebijakan, terutama jika penggantinya memiliki pandangan yang lebih dovish dan sejalan dengan keinginan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan suku bunga secara lebih agresif.
Ekonomi Indonesia Berpotensi Membaik di 2026
Dari sisi domestik, Laras memandang prospek ekonomi Indonesia pada 2026 cenderung membaik setelah melewati periode perlambatan pada 2024–2025.
“Tingkat suku bunga yang sudah lebih akomodatif serta belanja negara yang ekspansif diperkirakan dapat memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini,” ungkapnya.
Ia menyoroti pertumbuhan anggaran belanja negara sebesar 9% dalam APBN 2026 sebagai yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir, sehingga berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi nasional.
Defisit Fiskal dan Minat Investor terhadap SBN
Meski defisit APBN 2025 melebar menjadi 2,92% dari PDB, Laras menilai minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) tetap terjaga selama pemerintah konsisten menjaga defisit di bawah 3%.
“Selama pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit fiskal di bawah 3% sesuai undang-undang, maka sentimen pasar obligasi akan tetap terjaga,” katanya.
Permintaan SBN domestik juga dinilai masih kuat, didukung dominasi investor domestik yang mencapai 86% dari total kepemilikan SBN serta turunnya suku bunga deposito perbankan.
BI Rate Mendekati Akhir Siklus Penurunan
Sementara itu, Bank Indonesia diperkirakan memasuki fase akhir siklus penurunan suku bunga di 2026 setelah memangkas BI Rate secara agresif pada 2025.
“Potensi penurunan BI Rate lebih lanjut semakin terbatas karena fokus kebijakan BI akan lebih berimbang antara mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah,” jelas Laras.
Meski demikian, ia memperkirakan BI masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga sebanyak 1–2 kali ke kisaran 4,25%–4,50%, seiring inflasi yang terjaga dan ekspektasi The Fed yang lebih dovish.
Strategi MAMI Hadapi Peluang Pasar Obligasi
Menutup pandangannya, Laras menilai kondisi makroekonomi masih cukup kondusif bagi pasar obligasi pada 2026, meski investor tetap perlu mewaspadai risiko geopolitik dan dinamika fiskal.
“Secara historis, pasar obligasi cenderung mencatat kinerja positif pada tahun akhir siklus penurunan suku bunga. Namun ekspektasi tetap perlu dijaga,” ujarnya.
Dalam pengelolaan reksa dana obligasi, MAMI menerapkan strategi aktif berbasis analisis fundamental dengan fokus pada diversifikasi, manajemen durasi, serta pemilihan instrumen yang tepat.
“Reksa dana obligasi dengan karakteristik defensif dapat menjadi pilihan investor untuk menghadapi volatilitas jangka pendek. Kami juga memastikan likuiditas dan volatilitas tetap terjaga agar hasil investasi optimal dengan risiko terkendali,” pungkas Laras. (ted)






