Ringkasan Berita
* Self reward penting untuk kesehatan mental, namun jika dilakukan tanpa kontrol emosi, kebiasaan ini dapat berubah menjadi self sabotage yang merusak finansial.
* Untuk mengatasinya, masyarakat disarankan menerapkan Aturan 24 Jam sebelum checkout, menyisihkan tabungan di awal gajian, serta memanfaatkan inovasi perbankan digital seperti fitur bluSaving dan Goal Saving dari blu by BCA Digital agar tujuan keuangan jangka panjang tetap tercapai.
——————————————————————–
Surabaya (beritajatim.com) — Fenomena memberikan penghargaan pada diri sendiri atau self reward setelah bekerja keras kini makin marak di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. Tren healing, treat yourself, hingga dorongan you deserve it di media sosial acap kali menjadi pembenaran untuk memanjakan diri dengan berbelanja.
Self reward sejatinya berdampak positif untuk menjaga motivasi serta kesehatan mental. Namun, tanpa kendali yang bijak, batas antara apresiasi diri dan kebiasaan belanja impulsif kerap kabur, hingga berujung pada ancaman self sabotage kebiasaan emosional yang diam-diam merusak kondisi keuangan.
Seseorang kerap tidak menyadari bahwa kebiasaan memanjakan diri telah berubah menjadi destruktif. Pola seperti membeli barang setiap kali merasa lelah, stres, bosan, atau sekadar tergiur promo tanggal kembar menjadi indikator utama belanja emosional.
Beberapa tanda bahwa self reward sudah tidak sehat antara lain:
* Gaji Menumpang Lewat: Saldo rekening merosot tajam tak lama setelah gajian.
* Barang Menumpuk: Barang yang dibeli hanya memberikan kesenangan sesaat dan jarang digunakan.
* Rasa Penyesalan: Muncul penyesalan usai transaksi diselesaikan.
* Tabungan Jalan di Tempat: Tabungan sulit bertambah meski penghasilan terus meningkat.
* Ketergantungan Utang Konsumtif: Mulai mengandalkan paylater atau kartu kredit demi memenuhi keinginan sesaat.
Gimmick diskon, potongan harga, serta gratis ongkir sering kali memberi ilusi berhemat, padahal secara akumulatif justru menguras kantong lebih dalam.
Trik Menjinakkan Keinginan Belanja Impulsif
Untuk mencegah kebocoran finansial, langkah paling sederhana yang dapat diterapkan adalah Aturan 24 Jam. Saat tertarik membeli suatu barang, tunda pembayaran dan simpan barang tersebut di dalam keranjang belanja selama 24 jam.
Dalam jeda waktu tersebut, tanyakan empat hal mendasar pada diri sendiri:
1. Apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?
2. Apakah rasa menginginkannya masih sama besarnya esok hari?
3. Apakah barang serupa sudah dimiliki di rumah?
4. Apakah pembelian ini mengganggu anggaran belanja bulanan?
Selain aturan 24 jam, perubahan pola pikir dalam mengelola penghasilan juga menjadi kunci. Jangan menunggu sisa uang di akhir bulan untuk ditabung, melainkan **sisihkan dana tabungan di awal (pay yourself first)**, baru sisanya dialokasikan untuk kebutuhan pokok dan hiburan.
Memanfaat Fitur Perbankan Digital agar Menabung Lebih Menarik
Salah satu alasan berbelanja terasa lebih menggiurkan ketimbang menabung adalah sensasi kepuasan instan yang didapat. Sebaliknya, tujuan menabung sering kali terasa terlalu jauh dan membosankan.
Guna mengatasinya, penggunaan teknologi perbankan digital dapat membantu membuat target keuangan terasa lebih nyata dan terarah. Aplikasi blu by BCA Digital, misalnya, menghadirkan fitur bluSaving yang memungkinkan pengguna memisahkan uang ke dalam beberapa kantong tabungan sesuai dengan pos pos kebutuhan tanpa tercampur dengan uang operasional sehari-hari.
Tak hanya itu, terdapat pula fitur Goal Saving untuk membantu menetapkan sasaran tabungan yang spesifik, baik berdasarkan nominal maupun tenggat waktu tertentu. Baik itu menabung untuk dana pendidikan, uang muka kendaraan, laptop baru, maupun liburan akhir tahun, kepemilikan target yang jelas membantu menahan dorongan belanja emosional.
Pada akhirnya, keuangan yang sehat bukan berarti menahan seluruh keinginan, melainkan mampu menikmati hasil kerja keras secara terukur tanpa mengorbankan masa depan.[rea]






