Yogyakarta (beritajatim.com) – Dalam upaya mendukung ketahanan pangan dan menyongsong Indonesia Emas 2045, Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi terbaru berupa Beras Premium Presokazi.
Produk ini dihasilkan dari varietas padi Gadjah Mada Gogo Rancah 7 (Gamagora 7) yang dikembangkan melalui teknologi biofortifikasi. Langkah ini diharapkan mampu mengatasi permasalahan kekurangan gizi, khususnya zat besi (Fe) dan seng (Zn), yang kerap menyebabkan stunting pada anak dan ibu hamil.
Prof. Dr. Ir. Taryono, M.Sc., peneliti utama dari Fakultas Pertanian UGM, menjelaskan bahwa beras Presokazi merupakan hasil riset panjang yang dimulai sejak 2023. “Biofortifikasi ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan gizi pangan melalui budidaya. Beras dipilih karena merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia yang mudah diakses dan terjangkau,” ungkapnya melalui siaran pers.
Keunggulan Varietas Gamagora 7
Varietas padi Gamagora 7 awalnya dirancang untuk menjawab tantangan perubahan iklim yang memengaruhi hasil panen. Padi ini mampu tumbuh di lahan kering dan tadah hujan, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap hama seperti wereng. Dengan masa panen singkat sekitar 104 hari dan potensi hasil mencapai 9,8 ton per hektar, Gamagora 7 menjadi opsi menarik bagi petani.
Selain itu, beras yang dihasilkan dari varietas ini memiliki tekstur pulen, kandungan protein tinggi, dan kadar zat besi serta seng yang ditingkatkan menggunakan pupuk Super Smart Fertilizer (SSF). Pupuk ini sendiri merupakan inovasi dari Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM yang memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan dasar.
Implementasi di Lahan Petani
Proses pengembangan dan implementasi beras Presokazi dilakukan langsung di lahan masyarakat Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. “Kami bekerja sama dengan petani lokal untuk menguji efektivitas Gamagora 7 serta meningkatkan produktivitas lahan dengan pupuk SSF,” kata Prof. Taryono.
Namun, perjalanan menuju komersialisasi tidaklah mudah. Biaya tambahan yang dibutuhkan untuk pembenahan tanah dan penerapan teknologi baru menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, minat petani terhadap varietas padi baru ini masih perlu ditingkatkan melalui edukasi dan sosialisasi.
Kolaborasi dengan Industri
Dalam proses hilirisasi, UGM menggandeng dua perusahaan, yakni PT Tunas Widji Inti Nayottama (TWINN) dan PT Agri Sparta. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi beras Presokazi di pasar.
“Beberapa perusahaan sudah menunjukkan minat untuk mengembangkan teknologi Presokazi ini. Bahkan, ada yang tertarik untuk langsung memasarkan produk beras premium ini,” jelas Prof. Taryono.
Ia optimistis bahwa inovasi ini dapat menjadi solusi strategis dalam mengatasi permasalahan gizi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Beras Presokazi bukan sekadar produk pangan biasa. Dengan kandungan gizi yang ditingkatkan dan keunggulan budidaya yang ditawarkan oleh Gamagora 7, inovasi ini menjadi bukti nyata kontribusi UGM dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Ke depan, UGM berharap lebih banyak pihak, baik dari kalangan industri maupun pemerintah, terlibat dalam pengembangan dan distribusi beras Presokazi demi menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing. [aje]






