Surabaya (beritajatim.com) – Industri perhiasan mulai kembali menggeliat bahkan mempersiapkan diri menghadapi perubahan tren pada 2027.
Desain berukuran besar dengan bobot yang lebih ringan, permainan warna yang kian beragam, serta pengembangan batu permata buatan berharga terjangkau diproyeksikan membuka peluang baru bagi para pelaku usaha.
Kemajuan teknologi produksi, pengembangan material, hingga inovasi pelapisan dan pewarnaan logam turut menentukan daya saing industri perhiasan dalam menjawab kebutuhan konsumen.
Pembina UKM dan IKM Perhiasan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Wanto Tandya, mengungkapkan bahwa teknologi produksi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan desain perhiasan.
Teknik electroforming, misalnya, memungkinkan produsen menciptakan perhiasan berukuran besar dengan bobot relatif ringan.
“Permintaan perhiasan pada tahun 2027 mendatang akan makin mengarah ke bobot yang lebih ringan,” ujar Wanto di sela rangkaian Pameran Surabaya International Jewellery Fair ke-29 Tahun 2026 di Hotel Shangri-La Surabaya, Senin (19/10/2026)
Electroforming merupakan teknik pembentukan logam melalui proses elektrokimia pada cetakan khusus. Metode ini memungkinkan pembuatan struktur perhiasan yang relatif tipis atau berongga, tetapi tetap mampu menampilkan volume dan detail desain yang menonjol.
Teknologi tersebut memberikan keleluasaan bagi produsen untuk menghadirkan perhiasan berukuran besar tanpa membebani pemakainya, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan desain fashion jewellery.
Selain bentuk dan bobot, permainan warna diperkirakan menjadi salah satu ciri tren perhiasan 2027.
Wanto menyebut warna merah delima dan biru diprediksi masih diminati, terutama yang terinspirasi dari batu permata rubi (ruby) dan safir biru (blue sapphire).
Sementara itu, warna hijau dan kuning diperkirakan tidak terlalu dominan.
Perubahan ini menandai pergeseran dari desain yang cenderung klasik dengan warna emas kuning atau putih menuju perhiasan dengan kombinasi warna yang lebih beragam.
“Kalau sebelumnya perhiasan cenderung klasik, seperti warna emas kuning dan putih, sekarang mulai mengarah ke tren permainan warna. Namun, materialnya tetap emas,” kata Wanto.
Menurutnya, perubahan selera tersebut menunjukkan konsumen mulai terbuka terhadap pilihan desain dan warna yang lebih bervariasi.
Dari berbagai jenis perhiasan yang beredar di pasaran, cincin masih menjadi salah satu produk yang paling diminati, disusul gelang.
Peluang lain dalam industri perhiasan datang dari pengembangan batu permata buatan atau lab-grown gemstones.
Wanto mengatakan pihaknya berencana memperkenalkan produk yang disebut light gemstone pada 2027.
Produk ini mengacu pada batu permata seperti safir atau rubi yang dibuat melalui proses di laboratorium atau teknologi buatan manusia.
Batu permata buatan dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang menginginkan tampilan menyerupai batu permata alami dengan harga yang lebih terjangkau.
Kehadiran material tersebut juga membuka peluang bagi pelaku industri untuk menawarkan lebih banyak pilihan produk sesuai kebutuhan dan kemampuan belanja konsumen.
Meski demikian, batu permata buatan memiliki karakteristik dan proses pembentukan yang berbeda dari batu permata alami. Informasi mengenai jenis material dan asal batu tetap menjadi hal penting bagi konsumen sebelum membeli perhiasan.
Selain inovasi desain dan material, teknologi pelapisan serta pewarnaan logam juga menjadi perhatian industri perhiasan.
Dalam pameran tersebut, inovasi teknologi pelapisan logam juga dihadirkan oleh EuroTecniche, perusahaan asal Vicenza, Italia, yang bergerak dalam pengembangan teknologi pelapisan dan dekorasi warna perhiasan.
Managing Director EuroTecniche Thailand, Anne Wongsriphuak, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi pelapisan diarahkan untuk meningkatkan kualitas hasil akhir, melindungi permukaan logam, serta menjaga ketahanan warna agar tidak mudah memudar.
“Saat ini, ketika harga emas sangat mahal, inovasi pelapisan dapat membantu menghasilkan produk dengan kualitas lebih baik, lebih tahan lama, dan mengurangi proses oksidasi,” ungkap Anne.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan Anne adalah teknologi enamel generasi baru berbasis ultraviolet (UV) dan pemanasan tiga menit untuk mempercepat proses pengerjaan pewarnaan. Selain itu, EuroTecniche memperkenalkan enamel spray, yakni teknologi pewarnaan enamel yang diaplikasikan menggunakan airbrush untuk menghasilkan efek gradasi, bayangan warna, serta lapisan yang lebih halus.(way/aje)






