Mojokerto (beritajatim.com) – Dalam peringatan Hari Santri Nasional Santri 2025, Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah KH Asep Saifuddin Chalim menegaskan pentingnya transformasi pendidikan di pesantren yang kini telah mengadopsi kemajuan zaman tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisi Islam.
Melalui sistem pendidikan yang modern namun tetap berakar pada nilai-nilai keislaman, Ponpes Amanatul Ummah telah berhasil mencetak santri yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter mulia.
“Transformasi pendidikan ini terus kami kembangkan. Tahun lalu saja, sebanyak 1.258 santri Amanatul Ummah diterima di perguruan tinggi negeri, baik di dalam maupun luar negeri termasuk Jerman, Tiongkok, Mesir, Maroko, dan Tunisia,” ungkap KH Asep Saifuddin Chalim setelah upacara peringatan Hari Santri Nasional 2025 pada Selasa (22/10/2025).
Menurutnya, prestasi luar biasa ini menjadi bukti bahwa pesantren tidak hanya mencetak lulusan yang berilmu, tetapi juga membentuk karakter santri yang mampu membawa nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan modern.
Dari total tersebut, 65 santri diterima di fakultas kedokteran, dan beberapa lainnya diterima di universitas pertahanan. “Kami berkomitmen untuk melahirkan santri yang tidak hanya pintar, tetapi juga berakhlak mulia,” tegas KH Asep.
Peringatan Hari Nasional Santri 2025 di Ponpes Amanatul Ummah, yang digelar di Lapangan Besar Pahlawan KH. Abdul Halim, Desa Kembang Belor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, berlangsung dengan khidmat dan dihadiri ribuan santri.
Dalam acara tersebut, Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, KH Akhmad Jazuli, bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup) mewakili Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
KH Akhmad Jazuli dalam pidatonya mengapresiasi peran santri dan kiai dalam menjaga tradisi serta memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia. “Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, kami mengucapkan selamat memperingati Hari Santri Tahun 2025. Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para ulama, para kiai, pimpinan pondok pesantren, serta seluruh santri dan masyarakat yang dengan penuh sukacita merayakan momen ini,” katanya.
Selain itu, KH Jazuli turut menyampaikan duka cita atas wafatnya sejumlah santri dalam musibah di Ponpes Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo beberapa waktu lalu. Ia menambahkan bahwa KH Asep Saifuddin Chalim turut memberikan perhatian dan bantuan kepada para korban, seperti memberikan santunan dan fasilitas umrah bagi keluarga korban.
KH Jazuli juga mengingatkan kembali bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional berakar dari Resolusi Jihad 1945 yang menjadi tonggak penting perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Para santri, ulama, dan rakyat bersatu padu melawan penjajah, dengan keberanian tanpa rasa takut,” tegasnya.
Upacara diakhiri dengan penampilan seni dari para santri, mulai dari drumband, parade budaya, tarian daerah, pembacaan puisi, hingga teater santri. Semua penampilan tersebut menggambarkan semangat kebangsaan dan kecintaan pada tanah air.
Di bidang prestasi, Ponpes Amanatul Ummah juga menunjukkan capaian luar biasa sepanjang tahun 2025. Di tingkat internasional, santri Ponpes Amanatul Ummah berhasil meraih 31 medali emas, 20 medali perak, dan 14 medali perunggu.
Di tingkat nasional, mereka meraih 209 juara 1, 47 juara 2, dan 27 juara 3. Peringatan Hari Santri Nasional 2025 ini menjadi bukti nyata sinergi antara nilai keagamaan dan pendidikan modern.
Tema Hari Santri 2025, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia,” mencerminkan semangat para santri untuk berperan aktif dalam membangun peradaban dunia, seiring dengan semangat ‘Jihad Santri Jayakan Negeri’. [tin/suf]






