Ponorogo (beritajatim.com) – Duka menyelimuti Dusun Duwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Minggu (1/3/2026) sore. Seorang pelajar kelas 3 SMP bernama Rifa (16) meninggal dunia akibat ledakan mercon yang diduga terjadi saat proses peracikan bahan petasan di dalam rumahnya. Peristiwa tragis ini mengingatkan akan bahaya tradisi mercon dan balon udara saat bulan Ramadhan di Ponorogo.
Korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di depan pintu masuk rumahnya, sesaat setelah ledakan keras mengguncang lingkungan sekitar. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan suasana pilu, ketika sang ibu, Suminten, memeluk tubuh anaknya bersama kakaknya, Rio Effendi, di tengah kepanikan warga atas dahsyatnya ledakan tersebut.
“Korban ada 2 orang, 1 meninggal dunia inisial R, masih kelas 3 SMP,” kata Kasat Reskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali, Minggu (1/3/2026) malam, usai olah TKP di lokasi kejadian.
Selain Rifa, satu korban lainnya adalah Toni (20), warga Desa Morosari, Kecamatan Sukorejo. Toni diketahui merupakan teman korban dan saat ini menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Harjono Ponorogo. Dia mengalami luka bakar serius hingga sekitar 90 persen akibat ledakan tersebut.
Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menduga ledakan berasal dari bahan mercon yang tengah diracik di rumah orang tua korban. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya sejumlah bahan yang berkaitan dengan pembuatan petasan.

“Saat ini berdasarkan oleh TKP, masih kita dalami. Dugaannya ya meracik bahan mercon. Tetapi yang lebih dalam, koordinasi dengan tim gegana yang bisa memberikan kesimpulannya. Apakah itu benar-benar mesiu atau bahan untuk petasan,” ungkap AKP Imam Mujali.
Di lokasi kejadian, petugas juga menemukan plastik balon udara. Fakta tersebut mengarah pada dugaan bahwa mercon yang dirakit rencananya akan dipasang pada balon udara, sebuah tradisi yang kerap muncul saat Ramadhan di Ponorogo.
“Tradisi Ponorogo saat puasa memang banyak buat mercon dan balon udara. Kita mengimbau masyarakat Ponorogo, sudahlah jangan membuat petasan, tidak ada untungnya terbukti dengan kejadian-kejadian sebelumnya dan saat ini ada korban meninggal dunia. Saya mengimbau masyarakat menjaga Ponorogo agar tetap aman. Jangan membuat petasan, itu membuat rugi diri sendiri dan orang lain,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa tradisi tanpa pengawasan dan kesadaran risiko dapat berujung maut. Seorang pelajar yang seharusnya menatap masa depan, justru kehilangan nyawa akibat ledakan bahan berbahaya. (end/but)






