Blitar (beritajatim.com) – Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tegalsari di Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar sudah overload. Kondisi ini memaksa Bupati Blitar, Rijanto, menyusun rencana untuk mencari solusi atas penuhnya sampah di TPA Tegalsari.
Rijanto sendiri sudah meninjau TPA Tegalsari bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Langkah ini ditempuh dalam rangka mencari solusi atas penuhnya TPA Tegalsari.
“Setiap hari sampah yang masuk ke TPA Tegalsari sekitar 50 ton per hari,” ungkap Kepala DLH Kabupaten Blitar, Achmad Cholik, Senin (21/4/2025).
Menurut DLH Kabupaten Blitar sang bupati telah berkomitmen untuk menjadikan TPA Tegalsari menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Namun untuk mewujudkan hal itu, tentu diperlukan biaya yang cukup besar mencapai puluhan miliar.
“Tapi itu memang membutuhkan dana puluhan miliar ya, yang bisa kita lakukan saat ini adalah menyusun master plan nya, sehingga tahun depan bisa melakukan perluasan,” tegasnya.
Saat ini DLH Kabupaten Blitar sendiri telah menyusun master plan TPA Tegalsari. Jika master plan ini sudah selesai maka DLH Kabupaten Blitar akan segera melakukan perluasan lahan pada tahun 2026 mendatang.
TPA Tegalsari sendiri memang dibutuhkan segera sentuhan inovasi dan perbaikan. Pasalnya jika tidak ada perbaikan maka TPA Tegalsari Kabupaten Blitar akan penuh dalam 5 tahun ke depan.
“Nanti kalau semua dokumennya sudah lengkap maka bisa kami ajukan ke kementerian untuk proses pembangunan,” tandasnya.
Sampah di Kabupaten Blitar sendiri mencapai 500 ton per hari. Namun dari jumlah tersebut yang masuk ke TPA Tegalsari hanya sekitar 50 ton saja.
Sisanya masuk ke TPA Srengat serta Kesamben. Bahkan, beberapa di antaranya juga masih diolah oleh masyarakat secara mandiri. [owi/beq]






