Lumajang (beritajatim.com) – Warga terdampak erupsi gunung Semeru mengaku, tidak ada tanda-tanda peringatan dini dari pemerintah kalau gunung tertinggi di Pulau Jawa akan meletus.
“Tidak ada tanda-tanda Semeru akan erupsi, tidak ada peringatan apapun kalau Semeru akan meletus. Kalau memang kami diberi tahu akan erupsi, tentunya masyarakat sudah siap. Karena saat erupsi terjadi pada saat itu, masyarakat sudah aktifitas seperti biasa dimana-mana,” ungkap Abdul Manaf, salah satu pengungsi erupsi Semeru yang tinggal di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Minggu (5/12/2021) dini hari.
Ditemui di lokasi pengungsian, Abdul Manaf bercerita, ketika itu sudah terjadi banjir lahar dingin turun ke sungai Curah Kobokan.
“Saat itu banjir lahar dingin dan lava sudah turun, sudah menumpuk. Kemudian turun karena terbawa air hujan. Lalu keluar lagi lava panas dan turun ke perkampungan. Saat itu saya ada di dalam rumah. Istirahat setelah aktivitas di luar, dan kejadian ini luar biasa dari tahun lalu,” terang Manaf.

Kata dia, karena ada lava panas, ia dan keluarganya sempat terjebak di dalam rumah. “Kemudian saya lari ke halaman rumah dan tiba-tiba cuaca seperti malam hari, sudah gelap gulita. Karena gelap dan saya ada di halaman rumah, kemudian saya tarik anak saya masuk kedalam rumah lalu pintu saya tutup. Saya sudah pasrah dan khawatir saat itu dan merasa sudah tidak akan selamat,” kenang Manaf.
Setelah beberapa menit, lanjut Manaf, setelah gelap itu, Manaf mulai melihat ada cahaya terang.
“Beberapa menit kemudian setelah gelap gulita, mulai ada cahaya, mulai terang, terus cuaca akhirnya kembali seperti semula dan saya lari menyelamatkan diri,” pungkas Manaf. (yog/ted)






