Ponorogo (beritajatim.com) – Kabupaten Ponorogo untuk mempertahankan daerah di Provinsi Jawa Timur (Jatim) yang zero kasus penyakit mulut dan kuku (PMK), akhirnya jebol juga.
Mobilisasi hewan ternak dari luar daerah yang luput dari pantauan petugas menyebabkan ternak-ternak khususnya sapi di bumi reog tertular penyakit yang masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 1887 itu.
“PMK sudah ada di Ponorogo, semua dari luar daerah. Yakni dari Boyolali Provinsi Jawa Tengah (Jateng), disana memang tingkatnya sudah tinggi,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ponorogo, Agus Pramono, Kamis (2/6/2022).
Agus Pram julukan khas Agus Pramono tidak menyebut jumlah pasti berapa yang terkena PMK, namun dirinya menyebut Ponorogo belum menjadi daerah terparah PMK. Kabupaten Ponorogo tingkatan yang sifatnya tertular.
Tetapi meskipun begitu, tidak menyurutkan langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo untuk segera mengatasi masalah itu.
“Adanya PMK ini segera dirapatkan lintas sektor yang dihadiri oleh Forkopimda, untuk penanganannya,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”penyakit-mulut-kuku”]
Pemkab Ponorogo, kata Agus bakal menggerakkan sumber daya manusia (SDM) yakni dokter-dokter hewan yang ada. Baik itu dokter hewan yang berdinas maupun dari luar dinas. Untuk memantau dan mendampingi peternak yang hewannya terjangkit PMK.
Ini selain untuk mengatasi wabah penyakit ini, juga dalam rangka menyongsong hari raya Idul Adha atau Idul kurban. Sapi-sapi yang nanti akan disembelih, harus dipastikan sapi itu sehat. Dengan dicek oleh dokter-dokter hewan yang kompeten.
“Harapan Pak Bupati, sapi yang terkena itu untuk dilakukan lokalisir dulu. Supaya tidak menular ke hewan ternak yang masih sehat,” katanya. (end/ted)






