Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengaku terpukau setelah menyaksikan langsung Special Concert Illuminare, salah satu pertunjukan utama dalam rangkaian Surabaya World Choral Festival (SWCF) 2025 di Balai Pemuda Surabaya, Jumat (15/11/2025).
Dia menyebut kualitas pertunjukan, harmoni suara, dan atmosfer panggung membuktikan Surabaya telah berkembang menjadi kota seni bertaraf global.
“Banyak sekali choir dari berbagai kelompok dan sekolah yang memberikan penampilan terbaiknya. Ini ajang yang harus terus kita dukung supaya menjadi agenda rutin,” ujar mantan Bupati Trenggalek ini.
Emil menceritakan dirinya mengalami keterlambatan penerbangan selama dua jam karena adanya prioritas kedatangan Raja Yordania. Namun setibanya di Balai Pemuda, dia langsung dibuat terpukau oleh penampilan komposer, orkestra, dan paduan suara yang tampil malam itu.
“Saya sangat beruntung meski penerbangan saya terlambat dua setengah jam, tetapi saya masih dapat menyaksikan pertunjukan luar biasa ini. Ini salah satu paduan suara dan orkestra live terindah yang pernah saya lihat,” katanya.
Dalam konser Illuminare tersebut, para musisi dan paduan suara membawakan karya-karya komponis dunia seperti Elaine Hagenberg dengan aransemen penuh emosi dan kedisiplinan teknis. Pertunjukan juga diisi oleh One Voice Spensabaya di bawah conductor Dinar Primasti, juara utama Busan Choral International Festival 2025.
Konser Illuminare turut menghadirkan dua figur penting dunia musik paduan suara, yakni Dr. T.J. Harper dan Kevin Tison, yang membimbing sesi orkestrasi dan pengolahan suara dalam acara tersebut.
Menurut Emil, choir merupakan seni kompleks yang membutuhkan perpaduan disiplin, teknik, dan harmoni. Dia mencontohkan kompaknya 88 penyanyi dalam konser Illuminare yang mampu blend dengan baik, sebuah capaian teknis yang tidak mudah dicapai.
“Menggabungkan 88 orang nyanyi tantangan besar ya, lima orang saja sulit kompak, ini 88. Dan perpaduannya luar biasa bisa blend dengan baik,” ucapnya.
Di era kecerdasan buatan (AI), Emil menilai pertunjukan langsung seperti ini memberi nilai emosional yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Menurut Emil, ruang seni harus terus dijaga dan diberi ruang berkembang.
“Di era AI sekarang, menyaksikan live performance tetap memberikan emotional connection yang tidak bisa digantikan. Ruang-ruang seni seperti ini harus terus kita jaga,” tuturnya.
Menurut Emil, keberhasilan SWCF 2025, terutama dalam menghadirkan konser berskala internasional seperti Illuminare, menjadi bukti bahwa Surabaya mampu menjadi pusat perkembangan seni internasional. Dia berharap festival ini dapat terus berlanjut setiap tahun dengan partisipasi yang lebih besar.
“Yang membuat saya bangga adalah Surabaya berhasil mewujudkan ajang yang insyaallah akan menempatkan kota ini sebagai salah satu kota seni berskala global. Ini yang kita rayakan,” ungkapnya.
Emil memberikan apresiasi kepada panitia SWCF yang dinilainya telah menambah kekayaan seni dan memperkuat identitas budaya masyarakat Surabaya dan Jawa Timur.
“Saya ingin mengucapkan selamat kepada panitia atas kerja luar biasa dan telah menambah keindahan seni dalam kehidupan masyarakat Surabaya dan Jawa Timur,” pungkasnya. [asg/ian]






