Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, siap menyambungkan petani dengan perbankan untuk membicarakan persoalan relaksasi pembayaran kredit akibat kegagalan panen kurang lebih 3.200 hektare tanaman tembakau yang kena banjir di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan.
“Itu ranah perbankan. Di sini mereka hanya cabang, tentu harus minta izin pimpinan pusat dulu. Namun (pemberian relaksasi) tentu beralasan sekali dan Pemkab Jember bisa memfasilitasi untuk memediasi itu. Kami siap,” kata Bupati Hendy Siswanto, Kamis (13/7/2023).
Selama ini komunikasi Pemkab Jember dengan perbankan sudah cukup baik. Bupati Hendy mengatakan, pihaknya sudah memfasilitasi agar pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) bisa mendapatkan pinjaman dengan bunga lunak. “Kami memang kemarin belum meminta (kepada perbankan) untuk petani tembakau. Setelah kejadian ini kami baru punya keinginan itu.,” jelasnya.
Sebelumnya, petani meminta pemerintah daerah turun tangan untuk melobi kepada bank agar mau melonggarkan pembayaran pinjaman. “Ini kan bencana alam. Petani banyak yang pinjam dari perbankan. Kami tetap membayar, tapi mohon diberi kesempatan perpanjangan masa pembayaran,” kata Muhammad Zainul Aspar, petani tembakau asal Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Selasa (11/7/2023).
Selain masalah pembayaran pinjaman, petani juga meminta kepada Pemkab Jember untuk memperjelas hal-ihwal asuransi ganti rugi untuk petani. Hendy mengatakan, tanaman tembakau tersebut belum ditanggung asuransi oleh pemerintah daerah.
“Kami belum masukkan. Asuransi petani kami coba untuk sawah-sawah yang menggunakan pupuk organik. Asuransi kami masukkan, untuk komoditas pangan. Tembakau masih belum,” kata Hendy.
Mengenai asuransi untuk tanaman tembakau, Hendy masih akan bertanya pada perusahaan asuransi. “Mau atau tidak. Jasindo belum tentu mau. Tapi mudah-mudahan mau. Kami berharap Jasindo mau. Kami berharap untuk seluruh pertanian kita, Jasindo mau (menanggung) semua. Kalau mau semua, tentu akan lebih save untuk kita,” kata Hendy.
Hendy mengatakan, ke depan ada langkah-langkah yang perlu dilakukan Pemkab Jember dan petani bersama-sama. “Langkah petan pertama adalah menyiapkan pompa air, karena memang perlakuan terhadap tanaman itu tidak membutuhkan banyak air. Hujan terus-menerus seperti kemarin, (genangan) air hilang pun agak lama. Jadi perlu pompa,” katanya..
Kedua, lanjut Hendy, petani disarankan segera memanen daun tembakau yang bisa diselamatkan untuk mengurangi kerugian. “Ketiga, perbaikan saluran air. Petani kita perlu menggali saluran-saluran agak dalam sedikit, karena saluran-saluran itu agak dangkal,” katanya.
“Yang dilakukan pemerintah adalah memperbaiki seluruh pintu irigasi untuk bisa mengatur debit air. Air yang masuk ke sawah hanya air hujan kalau intensitasnya tinggi. Pintu air bisa dibuka tutup, sehingga volume bisa diatur,” kata Hendy.
Pemerintah juga menyosialisasikan jadwal masa tanam dan bekerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. “Jangan sampai kita tanam pada saat musim hujan. BMKG ini punya otoritas (memperkirakan) cuaca. Alat-alatnya canggih. Mereka bisa memberikan pegangan untuk petani-petani kita,” kata Hendy.
Pemkab Jember juga akan memberikan bantuan berupa pupuk kimia kepada petani tersebut. “Mereka pasti susah pupuk. Kami akan bantu beli pupuk kimia dengan anggaran DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau). Itu harus segera kami eksekusi,” kata Hendy.
Keempat, kata Hendy, pemerintah daerah akan mengintensifkan komunikasi dengan gabungan kelompok tani. “Ada lokasi-lokasi yang (biasanya) tidak ditanami tembakau tapi ditanami tembakau, karena harga tembakau sedang bagus. Akhirnya ditanami tembakau semua. Padahal di desain kita, itu (wilayah bukan) tembakau, tapi padi. Sinkronisasi ini harus dilakukan cepat sebelum kita mengkaji keseluruhan,” katanya. [wir]






