Malang (beritajatim.com) – SMPK St. Antonius Kalipare, Kabupaten Malang, menggelar kegiatan Bulan Bahasa untuk meningkatkan kemampuan literasi, menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia, serta melestarikan budaya di kalangan peserta didik.
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda. Dalam kegiatan tersebut, sekolah menghadirkan Dr. Agustinus Indradi, M.Pd., dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Katolik Widya Karya Malang, sebagai narasumber.
Ia menyampaikan materi mengenai pentingnya bahasa, budaya membaca, serta keberanian menulis sebagai bagian dari pengembangan literasi peserta didik.
Kepala SMPK St. Antonius Kalipare, Yulius Sutrisno, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap penggunaan gawai dan perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak.
Menurut Yulius, pemanfaatan teknologi perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan berbahasa dan kebiasaan membaca. Berdasarkan pengamatan pihak sekolah, kemampuan peserta didik dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar masih perlu ditingkatkan. Hal itu juga menjadi perhatian berdasarkan hasil rapor pendidikan tahun ini.
“Melalui kegiatan Bulan Bahasa, pihak sekolah berharap kemampuan literasi peserta didik semakin berkembang sekaligus menumbuhkan kembali kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya,” kata Yulius, Selasa (27/10/2026).
Yulius menegaskan bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara dan menulis, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter. Penggunaan bahasa yang baik dapat mendukung pembiasaan tata krama, sopan santun, serta sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 102 peserta didik dari kelas VII, VIII, dan IX. Seluruh guru SMPK St. Antonius Kalipare turut hadir untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.
Sementara itu, Agustinus menekankan bahwa membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan mendorong kebiasaan membaca. Peserta didik juga perlu memiliki keberanian untuk menuangkan gagasan, pengalaman, dan imajinasi ke dalam tulisan.
Ia menegaskan bahwa menulis merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan melalui kebiasaan membaca serta latihan secara berkelanjutan.
Agustinus juga menguraikan tiga modal penting dalam proses belajar, yakni pendengaran, penglihatan, dan perhatian. Ketiganya membantu seseorang menerima informasi, memahami lingkungan, serta mengolah pengalaman menjadi gagasan yang dapat dituliskan.
“Tulisan memiliki kekuatan untuk melintasi ruang dan waktu. Melalui tulisan, gagasan dan peristiwa dari masa lalu dapat diketahui oleh generasi berikutnya. Ia mencontohkan Chairil Anwar, penyair yang namanya tetap dikenal melalui karya-karyanya,” ucap Agustinus.
Pesan tersebut menjadi dorongan bagi peserta didik agar tidak menganggap menulis sebagai kegiatan yang sulit atau hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu.
Agustinus mengatakan bahwa mengenalkan pentigraf untuk melatih kreativitas merupakan salah satu materi yang disampaikan kepada siswa. Pentigraf merupakan singkatan dari cerita pendek tiga paragraf. Bentuk cerita pendek ini dapat menjadi sarana latihan bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, imajinasi, dan kemampuan menyusun cerita.
“Pentigraf memiliki unsur cerita seperti tokoh, penokohan, alur, latar, tema, dan pesan. Seluruh unsur tersebut disampaikan dalam tiga paragraf. Paragraf pertama berisi pengenalan tokoh dan situasi, paragraf kedua memuat masalah atau konflik, sedangkan paragraf ketiga berisi penyelesaian atau akhir cerita,” tegasnya.
Menurut Agustinus, siswa diajak memanfaatkan pengalaman sehari-hari sebagai sumber inspirasi. Pengalaman di rumah, sekolah, lingkungan pertemanan, maupun kehidupan keluarga dapat dikembangkan menjadi cerita yang menarik.
Dalam materi tersebut, Agustinus memberikan sejumlah contoh, di antaranya kisah tentang salah masuk kelas, membantu orang tua di sawah, dan kotak pensil pemberian ayah. Contoh-contoh itu menunjukkan bahwa pengalaman sederhana dapat menjadi bahan tulisan yang memiliki pesan dan makna.
Agustinus juga menempatkan kegiatan membaca sebagai salah satu sumber pengalaman penting bagi seorang penulis. Melalui membaca, seseorang dapat menambah pengetahuan, memperkaya kosakata, dan menemukan sudut pandang baru untuk dikembangkan menjadi tulisan.
Ia menekankan pentingnya kemampuan membaca, kemampuan menulis, serta kebiasaan melakukan keduanya secara berkelanjutan.
Selain itu, peserta didik diajak mengembangkan imajinasi dengan mengamati benda, orang, dan berbagai peristiwa di sekitar mereka. Hasil pengamatan tersebut dapat menjadi bahan untuk membangun tokoh, menentukan konflik, dan menyusun akhir cerita.
Dalam materi yang disampaikan, Agustinus menguraikan empat unsur untuk membangun cerita, yakni pengalaman, imajinasi, kemampuan menulis, dan keberanian.
“Keberanian menjadi unsur penting karena seseorang perlu memulai menulis tanpa harus menunggu tulisannya sempurna. Kemampuan menulis akan berkembang melalui latihan, pengalaman, dan kemauan untuk terus belajar,” bebernya.
Sebagai bentuk penerapan materi, lanjut Agustinus, peserta didik mendapatkan tugas membuat pentigraf berdasarkan pengalaman sehari-hari bersama teman atau keluarga. Karya tersebut harus ditulis secara mandiri, bukan dibuat menggunakan ChatGPT atau aplikasi sejenis.
Dalam materi tugas, paragraf pertama ditentukan sepanjang dua hingga empat kalimat, paragraf kedua tiga hingga lima kalimat, dan paragraf ketiga dua hingga empat kalimat.
Latihan tersebut diharapkan dapat mendorong peserta didik menerapkan materi yang telah dipelajari sekaligus membangun kepercayaan diri dalam menghasilkan karya tulis sendiri.
Melalui kegiatan Bulan Bahasa ini, SMPK St. Antonius Kalipare berharap peserta didik tidak hanya semakin terampil menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga memiliki kebiasaan membaca, keberanian menulis, serta kecintaan terhadap budaya.
Pesan utama yang disampaikan dalam kegiatan tersebut adalah bahwa menulis bukan semata-mata soal bakat, melainkan keterampilan yang perlu dilatih. Dengan membiasakan diri membaca, mengamati lingkungan, mengolah pengalaman, dan berani menuangkan gagasan, peserta didik dapat mulai mengembangkan kemampuan menjadi penulis.
“Menulis bukan semata-mata soal bakat, melainkan keterampilan yang perlu dilatih. Langkah pertama untuk menjadi penulis adalah berani mulai menulis,” pungkasnya. (yog/kun)






