Ringkasan Berita
* Tim Pengabdian kepada Masyarakat FTAB UB mengandeng pelaku usaha Mahim Yogurt dan Susu di Kota Batu untuk mengembangkan inovasi yogurt fungsional berbasis ubi jalar ungu dan kuning yang kaya antioksidan serta provitamin A.
* Melalui pendampingan teknis mulai dari formulasi hingga menjaga mutu produk, kolaborasi ini bertujuan meningkatkan nilai tambah pangan lokal, mendorong daya saing UMKM, sekaligus mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
————————————————————————
Batu (beritajatim.com) — Siapa sangka ubi jalar ungu dan kuning yang selama ini identik dengan olahan tradisional sederhana mampu disulap menjadi sajian kekinian berkelas? Berkat inovasi teknologi pangan, komoditas lokal ini kini berhasil ditransformasikan menjadi produk unggulan baru: yogurt fungsional bernilai ekonomi tinggi.
Langkah inovatif ini dipelopori oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat Skema A (2026) dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB). Menggandeng pelaku usaha lokal Mahim Yogurt dan Susu di Kota Batu, kerja sama ini bertujuan untuk menciptakan diferensiasi produk yogurt yang tidak hanya lezat, tetapi juga kaya manfaat kesehatan.
Penggunaan ubi jalar ungu dan kuning dipilih bukan semata-mata untuk mempercantik estetika tampilan yogurt. Ubi jalar ungu kaya akan antosianin—pigmen alami penyedia warna ungu sekaligus sumber antioksidan tinggi. Sementara ubi jalar kuning melimpah akan karotenoid (termasuk β-karoten) yang berfungsi sebagai provitamin A. Kombinasi keduanya menjadikan yogurt ini sebagai produk pangan fungsional yang ideal bagi gaya hidup sehat masa kini.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FTAB UB, Prof. Dr. Ir. Elok Zubaidah, M.P., menegaskan pentingnya menjembatani potensi pangan lokal dengan tren pasar terkini.
“Potensi bahan pangan lokal kita sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana mengolahnya menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini. Ubi jalar ungu dan kuning memiliki karakteristik yang menarik untuk dipadualkan dengan yogurt, baik dari sisi warna alami maupun komponen bioaktifnya,” ungkap Prof. Elok.
Pendampingan yang diberikan tim akademisi FTAB UB, yang juga beranggotakan Ella Saparianti, S.TP., M.P. dilakukan secara holistik. Edukasi mencakup pengolahan bahan baku, formulasi resep, efisiensi proses produksi, hingga pengendalian mutu (quality control). Pendampingan menyeluruh ini krusial untuk memastikan kestabilan rasa, tekstur, dan warna alami yogurt agar tetap diminati pasar tanpa mengurangi kualitas gizi bahan nabatinya.
Bagi mitra usaha, Mahim Yogurt dan Susu, sentuhan inovasi ini menjadi angin segar untuk menaikkan kelas produk lokal Kota Batu di tengah ketatnya persaingan pasar pangan olahan.
Selain memberi dampak ekonomi langsung pada UMKM, sinergi ini turut mendukung agenda global Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Melalui kolaborasi ini, keahlian perguruan tinggi terbukti mampu menyokong kemandirian pangan lokal sekaligus memperluas jangkauan pasar komoditas pertanian daerah.[rea]






