Slogan tidak memenangi pemilu. Namun slogan menjadi pembeda antara satu kandidat dengan kandidat lainnya. Teori politik menyebut slogan adalah pesan untuk konstituen dan menjadi bagian dari personifikasi seorang kandidat.
Tak belajar ilmu politik formal, Moch. Hafidi memahami benar bagaimana slogan bekerja. Berbeda dengan legislator lain yang memilih foto baliho dengan slogan formal berbahasa ‘melangit’, ia memilih menggunakan kata-kata sederhana.
Pemilu 2014, Hafidi menggunakan slogan: ‘Aku Padamu’, yang meminjam judul lagu ST12. “Aku Padamu itu maksudnya aku milikmu. Itu bahasa Rano Karno,” katanya. Nama Hafidi identik dengan slogan itu, dan terpilih menjadi legislator DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, periode 2014-2019 dari Partai Kebangkitan Bangsa.
Pemilu berikutnya, Hafidi memilih slogan ‘Cuma Kamu’ yang sama dengan judul lagu Rhoma Irama dan Rita Sugiarto. “Itu maksudnya cuma memilih saya,” katanya tertawa. Pemilik SMK Islam Bustanul Ulum (IBU), Pakusari, ini kembali terpilih menjadi anggota DPRD Jember periode 2019-2024.
Pemilu 2024, Hafidi memilih slogan ‘Hitam karenamu, Putih karenamu’. Kali ini tak ada judul lagu yang sama dengan slogan tersebut. Dia percaya diri bisa melaju kembali ke Kalimatan 86, alamat gedung DPRD Jember. Terlebih foto di balihonya juga tak bisa: dia sedang bersantai memakai kaos oblong sembari merokok.
Seorang wartawan senior tertawa melihat baliho-baliho sepanjang tepi jalan dari Jember menuju Kabupaten Banyuwangi. “Siapa konsultan politiknya?”
Tentu saja, Hafidi tak punya konsultan politik. Ia tak punya cukup uang untuk membeli saran. “Pemilihan slogan lebih pada melihat kondisi saat ini. Masyarakat sekarang sudah eneg (muak) melihat spanduk dan baliho dengan slogan formal. Slogan formal tidak laku di masyarakat,” katanya.
Menurut Hafidi, slogan-slogan formal seperti ‘jujur’, ‘bersih’, ‘profesional’ sering dianggap omong kosong. “Apalagi di era teknologi informasi seperti sekarang masyarakat tahu semua (kejadian politik di Indonesia). Jadi masyarakat sebenarnya benci melihat banner-banner dan baliho. Mereka bosan,” katanya.
Namun di tengah kejenuhan masyarakat terhadao alat peraga kampanye, masih ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk berkampanye melalui baliho. “Yang tidak akan bohong dan benci adalah mata manusia. Maka saya buat tagline yang membuat orang mau baca. Foto juga saya pilih yang santai dengan pesan ingin mengajak masyarakat bersantai,” kata Ketua Komisi D DPRD Jember ini.
Prinsipnya, agar orang mau melihat gambarnya di baliho. “Orang sekarang terlalu banyak berargumen dan berstatement, tapi ketika ditanya soal peta politik juga tidak mengerti,” kata Hafidi yang bertarung untuk daerah pemilihan Kecamatan Mayang, Tempurejo, Silo, dan Mumbulsari.
Lantas apa makna dari slogan ‘Hitam karenamu, Putih karenamu’? “Oh itu maksudnya, penilaian baik atau buruk terserah kamu. Inspirasi tagline itu diperoleh minimal dengan puasa tiga harilah. Masa gak puasa? Tidak perlu konsultan politik,” kata Hafidi tertawa.
Hafidi mengatakan, baliho-baliho tersebut dibuat oleh pendukungnya sendiri, terutama alumni SMK IBU. “Makanya model gambarnya ada beberapa macam,” katanya. [wir]






