Surabaya (beritajatim.com) – Koordinator Green Nord, Husin Ghozali, menuding PSSI hanya mencari-cari alasan terkait larangan kehadiran suporter tamu atau away yang masih akan diberlakukan pada musim kompetisi baru 2025/2026. Ia menyebut, sampai saat ini para suporter belum pernah melihat atau menerima bukti otentik dari FIFA tentang adanya larangan tersebut.
“Ini yang harus kita tegaskan tentang larangan suporter away, itu akal-akalan PSSI saja karena hingga saat ini kita sebagai suporter belum menerima atau tahu larangan itu dari FIFA dan tidak ada bukti otentik,” ungkap Husin, Senin (14/8/2025).
Menurut Husin, jika memang tidak ada surat resmi dari FIFA, maka kebijakan larangan ini hanya menunjukkan kemalasan federasi dalam bekerja. Ia menilai tidak adil apabila seluruh suporter di Indonesia harus terkena imbas larangan hadir di laga tandang hanya karena satu tragedi di masa lalu.
“Kondisi ini tentu tidak adil padahal waktu kejadian itu tidak ada suporter tamu atau away, kenapa semua suporter satu Indonesia harus menjadi korban tidak bisa away,” imbuhnya menyinggung tragedi Kanjuruhan.
Husin menegaskan, jika kebijakan ini tidak segera dicabut, suporter akan tetap berangkat mendukung tim kebanggaan mereka di laga tandang. “Kami suporter bukanlah sapi perah federasi yang hanya disuruh bayar denda karena melanggar kebijakan. Jika tidak segera dicabut, kami akan tetap away,” tegasnya.
Diketahui, regulasi larangan kehadiran suporter tamu ini sudah berjalan lebih dari dua musim. Hingga kini, PSSI bersama PT LIB (I-League) belum mencabut regulasi tersebut. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, bahkan sempat menyatakan larangan ini akan diperpanjang untuk kompetisi BRI Super League 2025/2026. Erick kembali beralasan bahwa FIFA masih melarang kehadiran suporter tamu.
Polemik ini semakin memanaskan hubungan antara suporter dengan federasi, terutama karena para pendukung merasa tidak pernah diperlihatkan dokumen resmi FIFA yang menjadi dasar kebijakan larangan away tersebut. [way/beq]






