Pamekasan (beritajatim.com) – Kompetisi kasta tertinggi sepakbola tanah air, Super League 2025-2026, secara resmi bergulir ditandai dengan laga pembuka antara Persebaya Surabaya menjamu PSIM Yogyakarta, di Stadion Gelora Bung Tomo, Jumat (8/8/2025) lalu.
Dengan laga tersebut, laga-laga lainnya secara resmi digelar secara maraton sesuai dengan jadwal yang ditetapkan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai regulator kompetisi Super League musim ini.
Hanya saja sekalipun kompetisi secara resmi bergulir, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian semua pihak khususnya para pecinta sepakbola tanah air, baik dari kalangan manajemen klub, ofisial tim hingga kalangan suporter.
Sebagian besar di antaranya mereka sangat menyayangkan laga pekan pertama Super League secara resmi digelar sekalipun tanpa adanya regulasi konkrit seputar kompetisi. Sehingga kebanyakan klub cenderung ‘kelabakan’ mengantisipasi beragam hal yang tidak diinginkan.
Larangan Super Away
Sejak tragedi berdarah di Stadion Kanjuruhan Malang, 1 Oktober 2022 silam. Induk tertinggi sepakbola tanah air (PSSI) mengeluarkan regulasi berupa larangan bagi suporter tim tamu untuk mendukung tim kebanggaan di kandang lawan. Regulasi tersebut terus berlanjut hingga kompetisi Liga 1 2024-2025 berlangsung pada musim lalu.
Bahkan suporter tim tamu yang memaksa datang dan mendukung langsung terhadap tim kesayangan, dapat dipastikan akan berujung sanksi disiplin dari Komisi Disiplin PT LIB sebagai regulator kompetisi, termasuk bagi tim tuan rumah yang dianggap lalai mengantisipasi kedatangan suporter tim tamu.
Kontras dengan musim lalu, pekan pertama Super League 2025-2026 justru mulai tampak suporter tim tamu mendukung tim kebanggaan di stadion lawan. Seperti superter PSIM Yogyakarta, mulai hadir di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya, guna mendukung timnya bertanding melawan tuan rumah Persebaya Surabaya.
Hal serupa juga tampak pada laga perdana Madura United FC di Stadion Gelora Madura Rato Pemelingan (SGMRP) Pamekasan, Sabtu (9/8/2025) malam. Pada laga tersebut, suporter Persis Solo, juga tampak hadir di Stadion Gelora Pemelingan Pamekasan. Bahkan kehadiran mereka justru berulah dengan beragam tindakan provokatif hingga pelemparan botol air mineral ke area tribun suporter Madura Bersatu.
Akibat insiden tersebut, suporter yang akrab disebut Pasoepati terpaksa tertahan di stadion sekalipun laga antara Madura United versus Persis Solo usai. Bahkan ratusan petugas pengamanan dari unsur TNI-Polri juga disiagakan di sekitar stadion untuk memastikan keamanan mereka dari ‘amukan balasan’ suporter Madura, sekalipun hal itu tidak terjadi.
Bukan hanya sekedar kehadiran suporter tim tamu, tim tuan rumah sudah dapat dipastikan akan mendapatkan sanksi disiplin dari Komdis PSSI seiring dengan kehadiran suporter tim tamu. Namun pihak manajemen tidak bisa berbuat banyak, terlebih mereka masuk ke area stadion dengan status bertiket melalui pemesanan online.
Dilema memang sudah pasti, namun regulasi konkret memang sangat dibutuhkan untuk menerapkan beragam langkah antisipatif guna menghindari dari beragam kemungkinan yang tidak diinginkan. Sehingga tragedi berdarah pada moment sebelumnya tidak kembali terulang.
Legiun Asing dan Pemain Kelompok Umur
Dalam edaran terbaru PT LIB sebagai regulator Super League, setiap tim diperkenankan merekrut sebanyak 11 pemain asing, serta sebanyak 7 pemain diperkenankan bermain di lapangan saat pertandingan resmi. Hanya saja peraturan tersebut tidak tertulis dalam regulasi Super League 2025-2026, sebab kompetisi masih menggunakan regulasi lawas, yakni Liga 1 2024-2025.
Kondisi tersebut juga tidak menutup kemungkinan jika setiap klub memainkan 10 pemain dalam waktu bersamaan dalam satu pertandingan, seiring dengan tidak adanya kepastian regulasi seputar pelaksanaan Super League. Sehingga setiap tim hanya mengandalkan feeling seperti yang biasa mereka lakukan di setiap kompetisi, dan kondisi tersebut tentunya terbilang sangat riskan untuk kompetisi profesional.
Dengan banyaknya pemain asing dalam setiap tim kontestan Super League, tentunya hal tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap regenerasi pemain lokal, khususnya seputar regulasi pemain U22-U23 yang harus bermain selama 45′ menit di setiap pertandingan.
Tanpa adanya regulasi pasti, kondisi tersebut akan membuat peluang para pemain kelompok umur akan semakin terkikis dan bahkan tidak lagi mendapat harapan dan kesempatan untuk berlaga sekaligus menunjukkan potensi dan kualitas yang harus mereka tunjukkan.
Dalam regulasi lawas, operator kompetisi mewajibkan setiap klub Super League mendaftarkan 5 pemain kelahiran 2003, dan satu di antaranya harus bermain sebagai starter (line up) selama minimal 45′ menit di setiap pertandingan.
Padahal memainkan pemain usia dini di kompetisi resmi justru melanggar aspek profesional, terlebih sistem jatah pemain muda bermain juga bertentangan dengan standarisasi profesional. Bahkan kondisi tersebut juga berpotensi memberikan dampak pada penurunan peringkat AFC terhadap kompetisi resmi sepakbola nasional.
Oleh karena itu, jika federasi ingin serius mengembangkan potensi pesepakbola usia muda sudah seharunya mengeluarkan regulasi pengurangan pemain asing dan bukan justru sebaliknya. Namun memaksakan pemain muda bermain juga juga kurang baik dan berpotensi menjadi persoalan dalam setiap tim, tentunya berbeda ketika mereka sudah siap, sehingga tidak lagi dibutuhkan yang namanya aturan pemain muda.
Memang banyak persoalan teknis yang diatur dalam setiap regulasi, sehingga keberadaan regulasi tentunya menjadi poin penting untuk menentukan arah dan prospek dari kompetisi itu sendiri, khususnya Super League 2025-2026. [pin/but]






