Surabaya (beritajatim.com) – Suko Sutrisno yang menjadi Security Officer memberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang tragedi Kanjuruhan di PN Surabaya. Dalam kesaksiannya, Suko mengatakan peristiwa yang menewaskan 135 orang ini tidak akan terjadi apabila polisi tidak melakukan tindakan represif pada suporter.
Selain Suko Sutrisno, ada juga Abdul Haris selaku ketua Panpel yang dimintai keterangan. Keduanya didatangkan sebagai saksi mahkota dalam sidang tragedi Kanjuruhan yang mendudukkan tiga Terdakwa dari kepolisian yakni Danki 1 Brimob Polda Jatim AKP Hasdarmawan, Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, dan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi.
Berkali-kali Suko Sutrisno dalam persidangan mengatakan bahwa kerusuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan tak akan terjadi apabila polisi tidak memukul suporter
“Ada pemukulan ke suporter oleh bapak aparat,” ujar Suko, saat memberikan kesaksian di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (7/2/2023).
Lebih lanjut Suko mengatakan, suporter turun ke lapangan sudah biasa terjadi di Malang. Mereka hanya memberikan semangat pada pemain Arema.
Keterangan Suko ini berusaha dimentahkan tim kuasa hukum Terdakwa dengan mengatakan bahwa ada upaya penyerangan yang dilakukan suporter terhadap para pemain.
“Saksi yakin bahwa suporter yang turun ke lapangan tersebut tidak memukul pemain? Padahal faktanya ada pemukulan yang dilakukan suporter pada pemain, dalam rekaman video ada suporter Arema tertinggal di lapangan lalu dipukuli suporter,” ujar salah satu kuasa hukum Terdakwa.
Mendapat pertanyaan tersebut, Suko menantang balik tim kuasa hukum Terdakwa untuk menunjukkan adanya bukti pemukulan yang dilakukan suporter terhadap pemain.
“Saya sudah tanya pemain satu-satu, apakah ada luka dan apakah ada yang dipukul? Semua pemain tidak ada yang luka maupun dipukul. Bahkan saya meminta agar para pemain untuk visum, dan tidak ada luka pada mereka,” ujar Suko.
Tindakan pemukulan aparat tersebut kata Suko, terlalu berlebihan. Sebab, menurutnya aksi suporter yang turun ke lapangan itu sudah biasa terjadi di Malang. Dan hubungan antara Steward dengan suporter sudah seperti biasa.
“Bila ada insiden ya insiden kecil bisa kita kendalikan, harusnya kalau ada suporter turun dibiarkan nanti akan balik sendiri,” tambahnya.
Bila sudah begitu, kata Suko, match steward biasanya juga akan mengarahkan suporter untuk keluar lapangan. Kemudian mereka pulang melalui pintu darurat.
“Kami sudah tahu karakter Aremania, karena kami sudah seperti suadara, pertandingan sebelum-sebelumnya sama seperti itu juga turun, hanya salaman dengan pemain memberi semangat. Mereka turun, lalu pulang karena pintu darurat sudah dibuka,” ucapnya.
Ia pun tidak mengerti mengapa pasca-pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya, 1 Oktober 2022 lalu, aparat melakukan tindakan kekerasan hingga penembakkan air mata.
“Intinya satu, jangan ada kekerasan sekecil apapun ke suporter, karena pengamanan suporter beda dengan penanganan huru-hara. Tidak akan suporter teriak, tidak ada melawan suporter, apalagi adanya gas air mata itu puncak amarah,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Tak hanya itu, dia juga melihat aparat yang berjaga di dalam stadion bukanlah kepolisian dari Malang, yang biasanya melakukan pengamanan di pertandingan Arema FC.
“Brimob biasanya yang di dalam tahu, kemarin yang saya tahu mereka yang di dalam bukan dari Malang,” katanya.
Karena kekerasan dan penembakkan gas air mata itu, suporter pun marah, mereka akhirnya melakukan penyerangan menggunakan sepatu, batu atau botol. Sasarannya, kata Suko, pun sudah jelas bukan steward, melainkan polisi.
“Faktanya steward enggak ada yang dipukuli, yang jadi korban dan sebagaianya, malah yang jadi kendaraan bapak aparat,” pungkasnya. [uci/but]






